Harakatuna.com. Jakarta – Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Nasaruddin Umar mengajak para guru Pendidikan Agama Buddha untuk tidak hanya mengandalkan pendekatan rasional dalam proses belajar-mengajar. Menurutnya, pendidikan yang ideal harus mengedepankan keseimbangan antara rasio, rasa, dan spiritualitas agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berkepekaan hati nurani.
Pesan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri kegiatan Apresiasi Guru Pendidikan Agama Buddha dan Pendidikan Keagamaan Buddha Tahun 2025 yang digelar di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Minggu (21/12).
Dalam Berbagainya, Menag mengulas makna filosofis kata “guru” yang berasal dari bahasa Sanskerta, yakni Gu yang berarti kegelapan dan Ru yang berarti cahaya. Makna tersebut, kata Menag, menegaskan peran guru sebagai sosok penerang yang memerdekakan peserta didik dari ketidaktahuan.
“Jangan mengajar murid hanya dengan rasio atau akal semata. Jika hanya rasio, murid mungkin menjadi pintar, tetapi kehilangan kepekaan hati nurani. Mengajarlah dengan rasa, dengan kecerdasan dan spiritual, agar lahir generasi yang berkarakter,” tegas Menag Nasaruddin.
Ia juga menyinggung keteladanan Siddharta Gautama yang dikenal sebagai guru bagi dewa dan manusia. Oleh karena itu, Menag mendorong para pendidik Buddha untuk menghidupkan empat keadaan batin luhur atau Brahmavihara dalam pembelajaran, yakni metta (cinta kasih tanpa syarat), karuṇā (welas asih), mudita (turut berbahagia), dan upekkha (keseimbangan batin).
Lebih lanjut, Menag menekankan pentingnya peran guru sebagai kalyāṇamitta atau sahabat yang baik bagi peserta didik. Guru diharapkan mampu membimbing murid menuju kebenaran serta menanamkan nilai-nilai pemeliharaan yang terintegrasi dengan kurikulum berbasis ekologi.
Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan doa universal umat Buddha Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta yang berarti “semoga semua makhluk berbahagia”. “Konsep ini sangat ekologis. Semua makhluk itu mencakup manusia, hewan, tumbuhan, hingga alam semesta. Guru harus menanamkan kesadaran bahwa jika alam rusak, manusia pun akan terdampak. Ini adalah wujud moderasi beragama yang menjaga keharmonisan dengan alam,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyampaikan penghargaan kepada para guru Pendidikan Agama Buddha, khususnya yang mengabdi di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk terus meningkatkan kesejahteraan guru melalui berbagai bentuk dukungan, termasuk penyediaan fasilitas penunjang pembelajaran seperti laptop dan perangkat digital.
“Jangan berkecil hati jika penghargaan di bumi terasa kurang. Yakinlah, nama Bapak dan Ibu tercatat indah di langit sebagai pejuang kemanusiaan,” pungkas Menag.
Melalui pesan tersebut, Menag menegaskan bahwa pendidikan agama memiliki peran strategis dalam memperkuat moderasi beragama, menumbuhkan keharmonisan antarmanusia, serta membangun kesadaran tanggung jawab ekologis bagi generasi muda.