Harakatuna.com. Islamabad – Pemerintah Tiongkok dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara terpisah memperingatkan Pakistan mengenai meningkatnya ancaman terorisme yang berasal dari Afghanistan, serta dampak kekerasan kelompok militan terhadap stabilitas kawasan dan keamanan Pakistan.
Peringatan tersebut disampaikan Duta Besar China untuk PBB, Sun Lei, dalam pembekalan tingkat tinggi terkait Jaringan Peringatan Dini Terorisme untuk Asia Tengah yang diadakan pada hari Jumat. Sun Lei menyebutkan bahwa meskipun kawasan Asia Tengah secara umum masih relatif stabil, namun tetap terdampak oleh efek berantai dari ancaman terorisme lintas negara. “Saat ini, wilayah Asia Tengah secara umum masih stabil, namun masih sangat dipengaruhi oleh efek meluapnya ancaman teroris,” ujar Sun Lei, seperti dilansir media Pakistan, Fajar.
Dalam kesempatan itu, utusan Tiongkok mendorong Pakistan untuk memperkuat kerja sama dengan Afghanistan guna menanggulangi masalah keamanan tersebut. Menurutnya, keterlibatan aktif dengan Kabul diperlukan agar Afghanistan tidak kembali menjadi tempat aman bagi kelompok teroris. “Kita perlu memperkuat keterlibatan dan kerja sama dengan Afghanistan untuk mencegahnya sekali lagi menjadi tempat aman bagi organisasi teroris, serta secara bersama-sama mencegah dan menangani kembalinya pejuang teroris asing,” katanya.
Sehari sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyampaikan peringatan serupa kepada Pakistan saat berada di New York. Guterres menegaskan bahwa PBB tetap berkomitmen terhadap empat tujuan utama di Afghanistan, meski menyatakan mengecewakan atas minimnya kemajuan yang dicapai Taliban dalam hal inklusivitas, hak asasi manusia, dan keamanan wilayah.
“Kita harus memastikan bahwa institusi-institusi Afganistan benar-benar inklusif, bahwa semua kelompok etnis di bawah, dan bahwa semua sektor masyarakat di bawah umur,” ujar Guterres, seraya menyebut hal tersebut sebagai “kondisi dasar bagi konsolidasi perdamaian.”
Ia juga menyampaikan secara mendalam terkait keberlanjutan terhadap hak-hak perempuan di Afghanistan. Dalam aspek keamanan, Guterres menyoroti ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok militan yang beroperasi dari wilayah Afghanistan dan dampaknya terhadap negara-negara tetangga, termasuk Pakistan.
“Segi lainnya adalah kebutuhan untuk memastikan bahwa tidak ada organisasi teroris yang dapat beroperasi dari Afghanistan ke negara lain. Kami sangat prihatin tentang apa yang terjadi dengan Tehrik-e-Taliban Pakistan dan dukungan yang mungkin mereka terima,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Menteri Khyber Pakhtunkhwa, Sohail Afridi, sebelumnya menyatakan bahwa tuduhan Pakistan terkait penggunaan wilayah Afghanistan untuk menyerang negaranya merupakan masalah serius yang harus didukung oleh bukti kredibel dari pemerintah federal, sebagaimana dilaporkan Berita Tolo.
Dalam sebuah pertemuan, Afridi menekankan bahwa Afghanistan bertepatan dengan sejumlah negara lain, namun tidak ada negara yang menyampaikan keluhan serupa seperti yang disampaikan Pakistan. “Negara-negara lain juga berbagi perbatasan dengan Afghanistan, tetapi mereka tidak pernah menyampaikan keluhan seperti itu. Jika ada klaim bahwa tanah Afghanistan digunakan untuk Pakistan, bukti harus disajikan. Tanggung jawab pemerintah untuk melakukannya,” ujar Afridi.
Selain itu, Afridi juga memaparkan tentang deportasi berkelanjutan imigran Afghanistan dari Pakistan. Ia mengkritik cara pengusiran yang dinilai keras dan tidak manusiawi, meskipun banyak warga Afghanistan yang masuk secara legal dan berkontribusi terhadap perekonomian Pakistan.
“Mereka datang secara legal, yang bekerja dan telah menciptakan kesempatan kerja bagi orang lain, diusir secara paksa dan kasar. Ada pendekatan diskriminatif di sini antara ‘baik’ dan ‘buruk’ orang Afghanistan, padahal kebijakan seharusnya seragam dan konsisten,” katanya.
Di sisi lain, analis politik Dawood Shiraz memperingatkan bahwa tuduhan berulang dari Pakistan telah berdampak negatif terhadap hubungan Kabul dan Islamabad. Ia mendorong dialog sebagai jalan keluar untuk meredakan ketegangan antara kedua pihak. “Kami memiliki hubungan dengan Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Iran, Pakistan, dan bahkan Tiongkok, namun kami tidak memiliki masalah dengan negara tetangga mana pun. Masalah sebenarnya terletak pada kurangnya perundingan,” ujar Shiraz.
Analis politik lainnya, Fareedullah Zazai, juga menolak tuduhan terhadap Afghanistan. Menurutnya, narasi yang menyebut wilayah Afghanistan digunakan untuk melawan Pakistan atau bahwa pemerintah Afghanistan saat ini menyatakan anti-Pakistan tidak memiliki dasar yang kuat. “Naratif bahwa tanah Afghanistan digunakan untuk Pakistan atau bahwa pemerintah Afghanistan saat ini memiliki sikap anti-Pakistan merupakan tuduhan yang tidak berdasar dan sebagian besar didorong oleh motif politik,” katanya.
Sementara itu, pejabat Emirat Islam Afghanistan secara konsisten membantah klaim Pakistan dan menegaskan bahwa wilayah Afghanistan tidak akan diizinkan digunakan untuk menyerang negara mana pun, sebagaimana dilaporkan Berita Tolo.