Harakatuna.com. Damaskus – Sejumlah negara Arab mengecam keras aksi pengeboman yang mengguncang sebuah kafe di Jalan Al-Nasr, dekat Istana Kehakiman (Justice Palace), Damaskus, Suriah, pada Kamis (2/7/2026). Serangan yang diduga merupakan aksi terorisme itu menyebabkan sedikitnya enam orang dan melukai lebih dari 20 orang lainnya.
Menurut laporan kantor berita pemerintah Suriah SANA, yang dikutip pada Jumat (3/7/2026), ledakan berasal dari alat peledak rakitan (IED) yang dipasang di dalam kafe. Aparat keamanan langsung menutup lokasi kejadian dan melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku serta motif di balik serangan tersebut. Hingga kini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman tersebut. Namun, pemerintah Suriah menduga serangan itu berkaitan dengan aktivitas sel-sel teroris yang masih berupaya mengganggu stabilitas keamanan negara.
Gelombang kecaman datang dari Yordania, Qatar, Mesir, dan Irak. Keempat negara menyampaikan solidaritas kepada pemerintah dan rakyat Suriah serta mengutuk aksi keras yang menargetkan warga sipil. Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut ledakan tersebut sebagai aksi teroris dan menegaskan dukungan penuh terhadap langkah Suriah dalam menjaga keamanan nasional.
Sementara itu, Qatar kembali menegaskan tuntutannya terhadap segala bentuk kekerasan, terorisme, dan tindakan kriminal. Mesir serta Irak juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menyatakan dukungan terhadap upaya Suriah mempertahankan keamanan, keadilan, dan integritas wilayahnya.
Serangan di pusat Kota Damaskus itu menjadi salah satu kejadian keamanan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa masih menghadapi tantangan besar dalam anggota kelompok-kelompok ekstremis yang tetap aktif pascaberakhirnya perang saudara dan tumbangnya pemerintahan Bashar al-Assad pada tahun 2024.
Berdasarkan informasi dari otoritas Suriah, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS masih berupaya membangun kembali jaringan bawah tanahnya melalui serangan terhadap sasaran sipil maupun fasilitas publik sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan ketakutan dan mengganggu proses pemulihan keamanan.
Insiden tersebut dinilai semakin mempertegas bahwa ancaman terorisme di Suriah belum sepenuhnya berakhir, meskipun konflik bersenjata skala besar telah mereda. Serangan terhadap ruang publik menunjukkan kelompok ekstremis masih memiliki kemampuan melakukan aksi sporadis untuk menciptakan instabilitas.
Gelombang kecaman dari negara-negara Arab juga mencerminkan meningkatnya kesamaan sikap regional dalam memerangi terorisme. Selain menyampaikan belasungkawa kepada para korban, negara-negara tekanan tersebut pentingnya memperkuat kerja sama keamanan regional guna mencegah kebangkitan kembali jaringan teroris di kawasan.
Di tengah proses transisi politik dan pemulihan ekonomi Suriah, penguatan koordinasi keamanan, baik di tingkat regional maupun internasional, dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas dan mencegah kelompok ekstremis kembali memanfaatkan situasi yang masih rentan.