Harakatuna.com. Mojokerto – Dewan Pimpinan Pusat Pena Da’i Nusantara (DPP PDN) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama yang dirangkaikan dengan peluncuran buku antologi nasional kedua berjudul Menjaga Merah Putih Nusantara. Kegiatan ini berlangsung pada 17–18 April 2026 di Taman Wisata Padi, Mojokerto.
Rakernas tersebut menjadi momentum konsolidasi gerakan literasi dakwah di tengah perubahan sosial dan perkembangan digital yang semakin pesat. Ketua Umum PDN, Muklis Sanjaya, menegaskan bahwa gerakan literasi dakwah lahir dari kegelisahan para penyuluh agama yang selama ini lebih dikenal melalui dakwah lisan.
“Dakwah tidak cukup bil lisan, tetapi juga bil qolam. Melalui tulisan, gagasan bisa hidup lebih lama dan menjangkau lebih luas,” ujarnya.
Muklis menambahkan, Rakernas ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi juga ruang untuk menyatukan ide, inovasi, dan kolaborasi lintas daerah dalam satu visi, yakni menjadikan tulisan sebagai media dakwah yang berdampak.
Hal senada disampaikan Sekretaris Wilayah IPARI Jawa Timur, Rahmat Shalahuddin. Ia mendorong para penyuluh untuk mendokumentasikan praktik baik di lapangan, termasuk program kampung moderasi beragama. “Tulisan adalah prasasti. Ide dan pikiran akan dikenang jika dituangkan dalam tulisan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf Kanwil Kemenag Jawa Timur, Arwani, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi penyuluh, baik dari aspek kepribadian, manajerial, maupun spiritual.
Menurutnya, digitalisasi dakwah harus diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti sekolah, madrasah, pesantren, serta media. “Penyuluhan agama kini menjadi perhatian strategi. Standarisasi dan evaluasi kinerja harus terus diperkuat,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Subdirektorat Bina Penyuluh Agama Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Jamaluddin M. Marki, menyoroti tantangan baru di era digital, termasuk persaingan dengan kecerdasan buatan dalam memproduksi narasi keagamaan.
“Penyuluh agama bukan lagi sekedar penyampai, tetapi arsitek perubahan sosial. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah banyaknya pesan, melainkan kemampuan memaknai dan mengontekstualisasikan ajaran agama agar tetap relevan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penyediaan data melalui sistem elektronik penyuluh agama (E-PA), administrasi yang teratur, serta soliditas komunitas penyuluh sebagai fondasi kerja profesional.
Rakernas pertama DPP PDN ini sekaligus menegaskan arah baru gerakan Pena Da’i Nusantara, yakni dakwah berbasis literasi, kolaborasi, dan transformasi digital. Di tengah derasnya arus informasi, penyuluh agama dituntut tidak hanya hadir, tetapi juga mampu memimpin perubahan sosial dengan narasi yang mencerahkan.