Harakatuna.com. Teheran – Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah strategis di selatan Iran, termasuk Pulau Qeshm dan Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan, Rabu (8/7/2026). Serangan yang terjadi di sekitar Selat Hormuz tersebut meningkatkan ketegangan di kawasan setelah gencatan senjata antara kedua negara dilaporkan kembali gagal dipertahankan.
Menurut laporan Press TV, Kamis (9/7/2026), rentetan ledakan terdengar di sejumlah lokasi setelah serangan udara menghantam kawasan pesisir Iran. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan tanggapan atas dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal militer Amerika Serikat serta kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Dalam keterangannya, CENTCOM mengklaim serangan dilakukan secara presisi dengan target sistem pertahanan udara, instalasi radar, serta sejumlah kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Media Iran melaporkan sedikitnya enam ledakan yang terjadi di Pulau Qeshm, sementara lebih dari delapan ledakan terdengar di wilayah Sirik. Selain itu, sejumlah ledakan juga dilaporkan terjadi di Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran di pesisir Teluk Persia.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah Iran belum mengumumkan jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut. Namun, sejumlah laporan menyebutkan proyek menghancurkan kawasan pelabuhan dan beberapa fasilitas di wilayah pesisir. Serangan itu terjadi ketika Iran sedang menggelar prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Pemerintah Iran mengecam keras tindakan tersebut dan menilai operasi militer Amerika Serikat sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.
Markas Besar Khatam al-Anbiya menyatakan Iran akan memberikan respons jika serangan serupa kembali dilakukan. Militer Iran juga menegaskan bahwa pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut dapat menjadi sasaran balasan jika eskalasi terus berlanjut.
Pulau Qeshm dan Kabupaten Sirik memiliki nilai strategis karena berada di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran internasional yang menjadi salah satu titik terpenting distribusi energi dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati selat tersebut setiap harinya. Meningkatnya aktivitas militer di kawasan itu memicu kekhawatiran terhadap stabilitas rantai pasok energi dunia. Sejumlah perusahaan pelayaran yang dilaporkan mulai meninjau ulang rute pelayaran mereka sebagai langkah antisipasi terhadap memburuknya situasi keamanan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara, termasuk Tiongkok, kembali mendorong Amerika Serikat dan Iran menahan diri serta mengedepankan penyelesaian melalui jalur diplomasi guna mencegah meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Meski begitu, hingga Rabu malam waktu setempat, belum terlihat tanda-tanda deeskalasi. Aksi saling tuding dan ancaman balasan dari kedua pihak terus meningkatkan kekhawatiran masyarakat internasional terhadap stabilitas keamanan kawasan serta keselamatan pelayaran di Selat Hormuz.