Harakatuna.com. Surabaya – Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Husniyatus Salamah Zainiyati, menyampaikan sejumlah rekomendasi strategi dalam forum Musrenbang RKPD Jawa Timur 2027 yang digelar di Surabaya, Selasa (14/4/2026). Usulan tersebut fokus pada penguatan ketahanan sosial dan keamanan berbasis masyarakat.
Dalam paparannya, perempuan yang akrab disapa Prof Titik itu menekankan pentingnya penerapan digital parenting dalam kurikulum keluarga sebagai langkah preventif menghadapi tantangan era digital. “Penguatan digital parenting sangat penting agar keluarga mampu membentengi generasi muda dari pengaruh negatif di ruang digital,” ujarnya.
Selain itu, FKPT Jatim juga mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam bidang keamanan siber di tingkat daerah. Hal ini dinilai penting mengingat meningkatnya ancaman kejahatan digital dan penyebaran paham radikal melalui platform online. Sinergi lintas sektor dalam keamanan siber harus diperkuat sebagai bagian dari menjaga stabilitas sosial, tambahnya.
Tak hanya itu, FKPT Jatim mengusulkan pemberdayaan Duta Damai serta influencer lokal sebagai agen moderasi untuk menyebarkan narasi positif, khususnya di kalangan generasi muda. Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas dan media sosial menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan ideologi di era digital.
Lebih lanjut, ia juga mengusulkan pembangunan “zona aman” di sekolah dan pesantren guna menciptakan ruang aman bagi pembentukan karakter generasi muda yang toleran dan inklusif. “Lingkungan pendidikan harus menjadi ruang aman yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga menghargai persahabatan dan moderasi,” tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, arah pembangunan 2027 akan fokus pada percepatan pertumbuhan ekonomi berkualitas melalui peningkatan produktivitas, investasi, dan sektor industri. “RKPD 2027 menjadi momentum untuk memperkuat fondasi pembangunan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Khofifah.
Ia menambahkan, Jawa Timur memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar 14,40 persen terhadap perekonomian Indonesia. Posisi ini juga diperkuat sebagai “pusat gravitasi” atau gerbang baru Nusantara, didukung infrastruktur seperti pelabuhan, kawasan industri, dan jaringan transportasi.
Meski demikian, Khofifah mengingatkan akan adanya tantangan global seperti konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi yang harus diantisipasi secara adaptif. “Kita harus memperkuat daya saing SDM, transformasi digital, dan ketahanan ekonomi daerah,” tutupnya.