Harakatuna.com. Mamuju – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Barat mengingatkan masyarakat tentang potensi penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) yang kini mulai menyasar generasi muda melalui perangkat digital, khususnya gadget.
Kepala Kesbangpol Sulawesi Barat, Muh. Darwis Damir mengungkapkan kekhawatiran tersebut dalam wawancara pada Jumat (3/4/2026). Ia mengatakan perkembangan teknologi informasi membuka peluang bagi organisasi terlarang untuk menyebarkan ideologi radikal kepada masyarakat, terutama kalangan anak muda.
Menurut Darwis, generasi muda menjadi sasaran utama karena dinilai lebih mudah terpapar informasi dari berbagai sumber di dunia digital tanpa penyaringan yang memadai. “Kekhawatiran kami adalah bagaimana paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme ini justru menjalar hingga menjangkau anak-anak kita. Kelompok yang paling mudah dimasuki adalah generasi muda,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi informasi, khususnya penggunaan gadget di kalangan pelajar, sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda radikal secara terselubung. “Mereka memanfaatkan gadget untuk menjangkau anak-anak kita,” tegas Darwis.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kesbangpol Sulbar melakukan berbagai langkah pencegahan melalui kegiatan evaluasi dan edukasi kepada para pemangku kepentingan. Upaya ini melibatkan Dinas Pendidikan, para guru, hingga orang tua siswa agar bersama-sama melakukan pengawasan terhadap aktivitas digital anak.
Selain itu, Kesbangpol juga menggandeng aparat keamanan, tokoh masyarakat, serta organisasi kemasyarakatan untuk memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham radikal di wilayah Sulawesi Barat. Melalui sinergi lintas sektor tersebut, pemerintah daerah berharap generasi muda dapat terlindungi dari pengaruh radikalisme yang memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sarana penyebaran ideologi.