Harakatuna.com. Surabaya – SMK Muhammadiyah 1 Kapasan Surabaya memperkuat karakter pendidikan bagi para siswa sebagai langkah preventif untuk menangkal potensi paparan paham radikalisme di kalangan pelajar. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran dengan menghadirkan guru tamu yang diselenggarakan pada Rabu (1/4/2026). Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas X dan XI sebagai bagian dari program penguatan karakter dan literasi persahabatan di lingkungan sekolah.
Kepala SMK Muhammadiyah 1 Kapasan Surabaya, Irvandi, menyampaikan bahwa karakter pendidikan memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda yang berkualitas untuk meyongsong visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, para pelajar perlu terus meningkatkan semangat belajar sekaligus mengembangkan potensi diri di tengah berbagai tantangan global, termasuk penyebaran ancaman paham radikalisme yang dapat mempengaruhi generasi muda.
“Penguatan karakter menjadi fondasi penting bagi pelajar dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Kami ingin siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berpikiran terbuka,” ujar Irvandi dalam keterangannya.
Ia menambahkan bahwa lingkungan sekolah harus mampu menjadi ruang yang kondusif bagi siswa untuk belajar, berkreasi, serta mengembangkan bakat dan minat sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dalam kegiatan tersebut, pihak sekolah menghadirkan narasumber Andi Hariyadi yang merupakan Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya. Andi dikenal aktif memberikan pelatihan serta edukasi kepada pelajar dan pelajar terkait literasi digital dan penguatan karakter.
Dalam pemaparannya, Andi menekankan pentingnya penguatan karakter pelajar Muhammadiyah melalui peningkatan wawasan keilmuan serta kemampuan berpikir kritis yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. “Pelajar Muhammadiyah harus memiliki wawasan yang luas dan kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut penting agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh narasi atau informasi yang beredar,” jelas Andi.
Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan literasi digital di era perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Menurutnya, pelajar perlu dibekali keterampilan dalam menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh konten-konten provokatif yang beredar di media sosial maupun platform digital lainnya.
Selain itu, Andi memaparkan sejumlah indikator yang dapat membuat pelajar rentan terpapar paham radikalisme. Di antaranya adalah krisis identitas pada usia remaja, pengaruh lingkungan pergaulan, paparan konten ekstrem secara berulang di ruang digital, serta rendahnya kemampuan dalam memverifikasi kebenaran informasi.
Melalui kegiatan tersebut, pihak sekolah berharap para siswa dapat meningkatkan kesadaran kritis, memperkuat karakter, serta mampu memanfaatkan ruang digital secara bijak sehingga terhindar dari pengaruh paham radikal yang dapat mengancam persatuan dan nilai-nilai kebangsaan.