Harakatuna.com. Kapuas – Pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Kalimantan Tengah, I Made Adnyana, S.Ag., M.Si, saat memberikan Dharma Wacana pada perayaan Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1948 tingkat Kabupaten Kapuas.
Kegiatan tersebut digelar di halaman Pura Desa Terusan Makmur Blok A, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas, Kamis (26/3/2026) siang.
Dalam kesempatan itu, Made menegaskan bahwa toleransi dan saling menghormati menjadi kunci utama dalam menjaga keharmonisan kehidupan beragama di tengah masyarakat. “Kerukunan umat beragama dapat terwujud apabila kita mampu saling bertoleransi dan saling menghormati satu sama lain. Hal ini menjadi kunci penting dalam menjaga keharmonisan umat beragama, khususnya di Kabupaten Kapuas,” ujar Made.
Ia menjelaskan, nilai-nilai tersebut sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama, di antaranya peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan serta penguatan ekoteologi melalui penerapan konsep Panca Cinta. “Panca Cinta mencakup cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada diri sendiri dan sesama, cinta kepada pengetahuan, cinta kepada alam semesta, serta cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.
Menurut Made, rangkaian peringatan Hari Suci Nyepi juga memiliki makna mendalam yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan ritual melasti yang dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari kekotoran jasmani dan rohani melalui perbuatan baik dan benar atau subha karma.
Sementara itu, prosesi Tawur Kesanga mengajarkan manusia untuk mencintai seluruh makhluk serta berproses meninggalkan perbuatan negatif menuju perilaku yang lebih baik. “Setiap manusia pada akhirnya akan menua dan meninggal dunia. Bekal yang kita bawa ke kehidupan selanjutnya bukanlah harta benda, melainkan perbuatan kita selama hidup,” katanya.
Ia juga menekankan makna Catur Brata Penyepian yang mengajarkan manusia untuk melakukan introspeksi diri, menilai diri sendiri, serta mengambil langkah-langkah menuju perbaikan dan keselamatan diri. “Dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian kita diajarkan untuk menenangkan pikiran melalui ketenangan, kelembutan, pengendalian diri, dan kemurnian pikiran. Dengan begitu, Dharma Santi atau kewajiban kita untuk menghadirkan kedamaian bagi diri sendiri dan orang lain dapat terwujud,” tambahnya.
Made juga mengingatkan bahwa sikap toleransi harus terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga kedamaian antarumat manusia maupun dengan makhluk lainnya. “Untuk menjaga perdamaian antarumat manusia dan seluruh makhluk setiap hari, sikap toleransi menjadi sangat penting. Dengan demikian, keharmonisan dan kedamaian dalam mewujudkan Kapuas Bersinar dapat tercapai,” tutupnya.
Perayaan Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1948 tingkat Kabupaten Kapuas ini turut dihadiri Bupati Kapuas yang diwakili oleh Asisten I, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kapuas, Camat Bataguh, Kepala Desa Terusan Makmur, serta umat Hindu di Desa Terusan Makmur, Kecamatan Bataguh.
Kegiatan tersebut mengusung subtema “Melalui Dharma Santi Nyepi Kita Bangun Keharmonisan dan Kedamaian untuk Mewujudkan Kapuas Bersinar.”