Harakatuna.com. Makassar – Paham ekstrem dan radikal masih menjadi ancaman serius bagi kerukunan masyarakat di Kota Makassar. Persoalan ini dinilai memerlukan perhatian lintas agama serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, Pdt. Darius Allo Tanko, SE, mengatakan ekstremisme tidak hanya berkaitan dengan isu keamanan, tetapi juga mencakup cara masyarakat memahami perbedaan dan menghormati keyakinan orang lain. Hal tersebut disampaikannya saat berbincang dalam program Pro 1 RRI Makassar, Selasa (27/1/2026).
Menurut Darius, radikalisme kerap tumbuh dari rasa ketakutan dan kekhawatiran masyarakat terhadap situasi keamanan. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan ide-ide intoleransi. “Paham ekstrem dan radikal menolak perbedaan dan menganggap kelompok lain selalu salah,” ujar Darius. Ia menilai sikap merasa paling benar menjadi akar utama munculnya ekstremisme.
Ia menambahkan, pertahanan pencegahan ekstremisme saat ini semakin kompleks dengan adanya dukungan teknologi digital. Media sosial yang dinilai menjadi sarana yang cepat dan efektif dalam menyebarkan propaganda serta melakukan konservasi. “Generasi muda sangat rentan karena emosi dan semangatnya mudah bergerak,” kata Darius. Menurutnya, konten yang dikemas secara menarik sering disusupi doktrin yang berputar.
Darius menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam upaya pencegahan radikalisme. Pendidikan toleransi, kata dia, harus berjalan seiring dengan dialog lintas agama yang berkelanjutan. “Kerukunan tidak bisa dijaga oleh satu pihak saja, semua harus terlibat,” tegasnya.
Ia menyebut kerja sama antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga keharmonisan sosial. FKUB Makassar pun terus mendorong peningkatan literasi keagamaan dan literasi digital di tengah masyarakat sebagai langkah preventif.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan Kota Makassar tetap aman, rukun, dan damai di tengah keberagaman.