Harakatuna.com. Antalya – Presiden Suriah Ahmad asy-Syaraa menegaskan negaranya tidak akan menempuh jalur konfrontasi militer dengan Israel demi menjaga stabilitas kawasan. Ia juga mengungkapkan ambisinya menjadikan Suriah sebagai pusat jalur energi dan perdagangan regional.
Pernyataan tersebut disampaikan Asy-Syaraa saat menghadiri Antalya Diplomacy Forum, Jumat (17/4/2026). “Kami tidak ingin berperang dengan Israel. Prioritas kami adalah stabilitas dan membangun kembali Suriah sebagai pusat pasokan energi dan perdagangan di kawasan,” ujarnya.
Menurut Asy-Syaraa, pemerintah Suriah saat ini fokus pada pemulihan ekonomi pascakonflik serta memperkuat posisi strategi negara sebagai penghubung jalur logistik lintas kawasan. Ia menyebut, pengembangan infrastruktur energi dan transportasi menjadi bagian dari visi jangka panjang tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan Israel, Suriah memilih menjaga jarak dari eskalasi militer dan membuka ruang diplomasi sebagai solusi alternatif. Asy-Syaraa mengakui bahwa hubungan dengan Israel masih diwarnai ketegangan. Namun, ia menegaskan jalur komunikasi belum sepenuhnya tertutup dan peluang dialog tetap terbuka.
“Kami memahami kompleksitas situasi politik saat ini, tetapi komunikasi tetap mungkin dilakukan,” katanya.
Ia juga mengisyaratkan bahwa tindakan Israel di masa lalu dinilai keras, namun tidak serta-merta menutup peluang perundingan di masa depan. Pengamat menilai langkah ini mencerminkan perubahan strategi Suriah dari pendekatan konfrontatif menuju diplomasi yang lebih pragmatis. Fokus pada stabilitas ekonomi dan infrastruktur pembangunan menjadi kunci bagi Suriah untuk kembali berperan dalam peta geopolitik kawasan.
Jika strategi tersebut berhasil, Suriah berpotensi menjadi jalur penting dalam distribusi energi dan perdagangan regional, meskipun pertahanan politik dan keamanan masih menjadi faktor utama yang harus dihadapi.