Harakatuna.com. Suriah – Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan pasukan keamanan pemerintah telah menangkap sejumlah anggota ISIS. Mereka diduga bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap personel keamanan dan militer di Provinsi Idlib dan Aleppo.
Penangkapan tersebut dilakukan menyusul serangan yang diklaim ISIS pada Minggu lalu, yang menjatuhkan empat personel keamanan Suriah saat sedang berpatroli di Jalan Maaret Al Numan, Idlib. Insiden itu mendorong aparat keamanan meningkatkan langkah-langkah pengawasan dan survei di wilayah tersebut.
Pada hari Rabu, Kementerian Dalam Negeri Suriah mengungkapkan bahwa operasi pemantauan intensif berhasil mengidentifikasi kendaraan yang digunakan oleh pelaku.
“Melalui operasi pemantauan dan pengawasan, satuan keamanan berhasil menangkap tiga orang, sementara satu lainnya dilumpuhkan. Dalam pemeriksaan, para tahanan mengaku terlibat empat orang lain yang turut serta dalam melaksanakan operasi teroris,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Pasukan keamanan kemudian melanjutkan operasi kedua yang berakhir pada penangkapan lima tersangka tambahan. Menurut kementerian, para tersangka mengakui telah melakukan tiga “operasi teroris”, yakni serangan di Maaret Al Numan, penyerangan terhadap personel Kementerian Pertahanan di Idlib, serta serangan terhadap petugas bea cukai di wilayah Zarba, Aleppo.
Dalam penggerebekan tersebut, aparat menyita sejumlah barang bukti berupa rompi peledak, peredam senjata, senapan M-16, serta senapan mesin M4.
Sementara itu, Damaskus dan Washington juga menuding seorang penembak tunggal yang mengidap dua tentara Amerika Serikat dan seorang penerjemah di Palmyra pada Sabtu lalu memiliki kaitan dengan ISIS. Namun hingga kini, kelompok tersebut belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Wilayah Idlib sebelumnya dikenal sebagai basis kelompok pemberontak dan ekstremis, termasuk pejuang asing, selama perang saudara Suriah. Pada bulan Desember tahun lalu, kelompok pemberontak yang dipimpin Hayat Tahrir Al Sham—kelompok yang disingkirkan dari organisasi yang sebelumnya berafiliasi dengan Al Qaeda—melancarkan serangan cepat yang memerintahkan rezim mantan Presiden Bashar Al Assad.
Koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat juga beberapa kali melakukan serangan udara di wilayah Idlib, yang menurut mereka menargetkan anggota ISIS. Pemerintah Suriah menyatakan akan terus melancarkan operasi terhadap kelompok tersebut, termasuk operasi gabungan dengan fasilitas internasional yang diluncurkan pada Minggu lalu untuk memburu “sel-sel baru tidur” ISIS di wilayah gurun, menyusul serangan di Palmyra.
ISIS diketahui pernah menguasai wilayah luas di Suriah sebelum mengalami kekalahan teritorial pada tahun 2019. Meski demikian, para pengamat menilai kelompok tersebut masih mempertahankan keberadaan dan kemampuan operasionalnya, terutama di wilayah gurun Suriah yang luas.