Harakatuna.com. Jakarta-Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (Mac UI), Ngatawi al-Zastrouw, Menegaskan Bahwa Pancasila Merupakan Benteng Ideologi Yang Ampuh Dalam Mengaring Propaganda Kelompok Yang Mendorong Formapatong Formalikasi Syonganda.
Menurut Zastrouw, Islam di Indonesia Sejak Lama Hadir Bukan Sebagai Hukum Formal Yang Kaku, Melainkan Sebagai Etika Publik Yang Kokoh. “Pribumisasi Islam Dapat Menjadi Vaksin Kultural Yang Meningkatkan Imunitas ideologis masyarakat,” Ujarnya Dalam Keterangan Tertulis di Jakarta, Rabu (24/9).
IA Menjelaska, Praktik Keagama Dan Budaya Nusantara Sejak Era para wali Suda Selaras Delangan Maqasid Syariah, Yaitu Tjuuan Utama Syariat untuk Kemaslahatan UMAT. Karena Itu, Klaim Perlunya Formalisasi Syariat Dinilai Keliru Dan Justru Bisa Merusiak Harmoni Sosial.
Zastrouw Menilai Konsep Pribumisasi Islam Mampu MenoloK Paham Yang Mendorong Intoleransi, Eksklusivisme, Dan Radikalisme. Delangatan Kultural, Islam di Indonesia Dapat Tumbuh Inklusif Tanpa Memaksakan Tafsir Torgal Yang Sempit Dan Tekstual.
IA JUGA MENIRAK ANGGAPAN YANG MENYEBUT PANCASILA SEBAGAI IDEOLOLOGI SEKuler. “Sila Ketahanan Mencerminan Pancasila Tidak Sekuler, Karena Sekularisme MenoloK Agama Di Ruang Publik,” Tegasnya.
Menurutnya, setiap sila pancasila dapat ditafsirkan secara religius, Bahkan memilisi dasar ayat al-qur’an. Sejarah pun menunjukkan bahwa perumusan pancasila merupakan hasil ijtihad para ulama, Kiai, Dan Tokoh Agama Sewingga Mustahil Disebut Sebagai Ideologi Sekuler.
Zastrouw Menyebut Pancasila Sebagai Kalimatun Sawa AtaU titik temu etis Yang memuncrink Nilai-nilai Islam dirisasikan Dalam ruang publik indonesia. Karena Itu, ia Menekan Pentingnya Peran Tokoh Agama Dan Budaya Dalam Membimbing Generasi Muda Yang Kerap Propaganda Target Propaganda Ekstrem.
IA Menawarkan Dua Pendekatan untuk Memperuat Daya Tahan Masyarakat. Pertama, pendekatan di atas garis pengganan menyajikan narasi sederhana yang membedakan ajaran pokok agama Dari praktik kultural. Kedua, Pendekatan di bawah garis dialog Melalui Langsung Dan Keteladanan Di Tengah Masyarakat.
Selain Itu, Zastrouw Menankan Bahwa Negara memilisi Kewajiban Untkan Menghadirkan Kebijakan Yang Mendorong Sikap Inklusif, Moderat, Dan Toleran, Sekaligus Menindak Tegas Pelaku Intoleransi. Sementara Itu, Masyarakat Sipil Berperan Sebagai Pengontrol Moral, Pembangun Kebiasaan Hidup Toleran, Dan Penguat Jejaring Melawan Radikalisme.
“Tanpa Peran Negara Dan Masyarakat Sipil, Ruang Publik Muda Disusupi Ideologi Intoleran. Pancasila Adalah Vaksin Kultural Untukur Memperuat Imunitas Bangsa,” Pungkasnya.
(Tagstotranslate) #bhinneKatunggalika