Harakatuna.com. Palu — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengimbau agar penggunaan pengeras suara atau toa di masjid untuk membangunkan sahur selama Ramadhan 1447 Hijriah/2026 dilakukan secara bijaksana dan arif, dengan tetap mengedepankan nilai toleransi.
Ketua MUI Kota Palu, Zainal Abidin, mengatakan imbauan tersebut merupakan langkah positif dalam menjaga kerukunan dan perdamaian antarumat beragama di tengah masyarakat yang majemuk. “Saya kira imbauan MUI Pusat terkait pengerasan suara, khususnya di bulan Ramadhan, itu sebenarnya positif. Ini bagian dari upaya menjaga kehidupan yang rukun dan damai di antara sesama warga negara,” ujarnya di Palu, Kamis.
Menurut Zainal, yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tengah (FKUB), imbauan tersebut lahir dari semangat merawat kehidupan bersama di tengah keberagaman latar belakang agama, aliran, dan pemahaman keagamaan.
Ia menjelaskan, selama penggunaan pengeras suara tidak menimbulkan permasalahan di tengah masyarakat, maka kebiasaan tersebut dapat terus dilaksanakan. Namun jika terdapat warga yang merasa terganggu atau berada dalam kondisi tertentu, seperti sakit, maka hal tersebut perlu menjadi pertimbangan bersama.
“Keberhasilan syiar Islam tidak semata-mata diukur dari kerasnya suara yang dipancarkan dari masjid, melainkan dari cara penyampaian yang santun dan bijaksana,” tegasnya.
Zainal menambahkan, keberhasilan dan keberhasilan Islam sangat ditentukan oleh kelembutan dan kesan dalam menyampaikan ajaran agama. “Menurut saya, kesuksesan dan kesuksesan Islam itu bergantung pada kelembutan dan kesantunan dalam menyampaikan pesan-pesan agama,” ucapnya.
Oleh karena itu, MUI Palu mendorong agar setiap kegiatan dakwah menghadirkan rasa nyaman dan menyenangkan bagi semua pihak. Ia menekankan bahwa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin membawa pesan kasih sayang bagi seluruh alam.
Terlebih lagi pada bulan Ramadhan, ibadah puasa seharusnya berdampak pada peningkatan akhlak serta terciptanya keharmonisan sosial. Umat Islam yang berpuasa, lanjutnya, seharusnya menunjukkan adab dan budi pekerti yang lebih baik, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia.
“Hubungan kita dengan Tuhan harus baik, begitu juga dengan sesama manusia. Agama mengantarkan kita pada kemaslahatan dan kebahagiaan bersama,” tutupnya.