Harakatuna.com. Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima audiensi Pengurus Pusat Pemuda Katolik periode 2024–2027 di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan sinergi dalam merawat toleransi antarumat beragama, memperluas konsolidasi persahabatan, serta meningkatkan kualitas layanan keagamaan Katolik di berbagai daerah.
Ketua Umum Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menyampaikan apresiasi atas kinerja Kementerian Agama. Ia secara khusus menyoroti kolaborasi yang telah terjalin antara organisasinya dan Ditjen Bimas Katolik dalam merespons berbagai dinamika sosial keagamaan di lapangan.
“Kami merasakan sinergi yang sangat baik. Melalui koordinasi proaktif dengan Ditjen Bimas Katolik dan pemerintah daerah setempat, berbagai dinamika keumatan dapat diselesaikan dengan mengedepankan pendekatan dialogis dan musyawarah yang menyejukkan,” ujar Gusma.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Agama menegaskan bahwa dialog dan lintas konsolidasi iman tidak boleh berhenti pada elite tataran atau tokoh agama semata. Menurutnya, nilai-nilai kerukunan harus benar-benar membumi dan dirasakan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
“Kita sudah memiliki banyak dokumen dan deklarasi penting tentang persaudaraan. Tantangan utama adalah bagaimana nilai-nilai tersebut benar-benar hidup dan dipraktikkan di tengah masyarakat. Konsolidasi perdamaian harus membumi sampai ke bawah,” pesan Menag.
Ia juga merefleksikan pesan perdamaian dari momentum kunjungan Paus Fransiskus serta penandatanganan Deklarasi Istiqlal. Menurutnya, harmoni keberagaman di Indonesia merupakan modal sosial bangsa yang sangat berharga dan perlu terus dirawat.
“Keberagaman adalah kekuatan bangsa kita. Perbedaan itu adalah kenyataan, dan yang terpenting adalah bagaimana kita mengedukasinya dengan baik agar masyarakat menerima informasi yang utuh dan tidak mudah terprovokasi,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Pemuda Katolik memaparkan program inovatif dalam dialog pembinaan kader melalui Pasukan Komando Pemuda Katolik (Paskokat). Program tersebut dipusatkan pada aksi kemanusiaan, penguatan literasi digital, advokasi sosial, dialog lintas iman, serta tanggap bencana.
Menag menyambut baik inisiatif tersebut dan tekanan peran strategi generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital. “Anak-anak muda jangan ikut sampai terbawa arus polarisasi. Justru kalian harus hadir sebagai penyejuk, membangun komunikasi, dan memahami kesalahpahaman,” arah Nasaruddin.
Selain isu kepemudaan, pertemuan itu juga membahas optimalisasi layanan keagamaan Katolik, termasuk ketersediaan guru pendidikan agama Katolik di sekolah negeri serta penempatan penyelenggara agama di wilayah dengan populasi umat yang besar.
Menag menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat layanan keagamaan secara adil dan proporsional. “Penempatan penyelenggara dan pemeliharaan guru agama terus kami upayakan melalui mekanisme dan formasi tata kelola aparatur negara yang tersedia. Prinsipnya, kami berkomitmen penuh agar pelayanan keagamaan dapat berjalan optimal dan berkeadilan bagi seluruh umat,” jelasnya.
Menutup pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Nasaruddin kembali menegaskan pentingnya kolaborasi lintas elemen dalam menjaga persatuan dan kerukunan bangsa. “Kita berharap upaya merawat kerukunan ini membawa dampak nyata bagi masyarakat luas. Indonesia harus terus kita jaga sebagai rumah bersama yang damai bagi siapa saja,” tutupnya.