Harakatuna.com. Jenewa — Konflik yang terus meluas di Timur Tengah mulai menimbulkan dampak kemanusiaan yang lebih luas, termasuk meningkatnya ancaman kerawanan pangan di berbagai negara berkembang. Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) memperingatkan jutaan orang kini semakin dekat dengan risiko kelaparan akibat kenaikan harga energi dan terganggunya rantai pasok global.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Jumat (5/6/2026), WFP menyebut kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi telah mendorong peningkatan harga pangan secara signifikan. Di saat bantuan yang sama, keterbatasan pendanaan membuat berbagai program kemanusiaan terpaksa dikurangi.
Menurut laporan yang dikutip Ariana News, konflik regional yang berkembang setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sejak Februari telah mempengaruhi jalur pelayaran internasional, termasuk kawasan strategis Selat Hormuz. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan rute kapal dan memperbesar tekanan terhadap distribusi energi serta pasokan logistik global.
Pada Maret lalu, WFP memperkirakan sekitar 45 juta orang berpotensi masuk ke kategori kerawanan pangan akut jika harga minyak bertahan di kisaran 100 dolar AS per barel hingga pertengahan tahun.
Kini, menurut lembaga tersebut, proyeksi tersebut mulai menunjukkan dampak nyata seiring harga minyak dunia yang masih bertahan di atas ambang batas tersebut sejak awal Maret.
“Kenaikan harga energi memberikan efek berdampak terhadap sistem pangan global, mulai dari biaya distribusi hingga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar,” demikian disampaikan dalam analisis WFP.
Sejumlah negara dengan tingkat kerentanan ekonomi tinggi disebut sebagai kelompok yang paling terdampak. Rumah tangga di Afghanistan, Somalia, dan Sri Lanka menghadapi tekanan berlapis akibat kenaikan biaya hidup, kenaikan harga pangan, penurunan pendapatan, serta terganggunya aktivitas perdagangan.
WFP menegaskan bahwa tanpa tambahan pendanaan internasional dan stabilisasi kondisi geopolitik, jutaan keluarga berisiko kehilangan akses terhadap kebutuhan pangan yang memadai.
Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa krisis pangan global tidak hanya dipengaruhi oleh faktor produksi, tetapi semakin dipengaruhi oleh konflik geopolitik, volatilitas energi, serta gangguan jalur perdagangan internasional.
Di tengah situasi tersebut, komunitas internasional didorong untuk memperkuat koordinasi bantuan kemanusiaan guna mencegah semakin meluasnya dampak krisis terhadap masyarakat rentan di berbagai kawasan dunia.