Harakatuna.com. Teheran – Kementerian Intelijen Iran menyatakan telah melaksanakan serangkaian operasi kontra-terorisme, kontra-spionase, dan penindakan sabotase selama periode konflik yang disebut sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Operasi tersebut berlangsung selama 39 hari dan berakhir setelah tercapainya gencatan senjata pada awal April.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada Minggu (14/6/2026), Kementerian Intelijen Iran mengungkapkan bahwa operasi keamanan tersebut berhasil menggagalkan sejumlah ancaman yang dinilai dapat mengganggu stabilitas nasional selama masa konflik berlangsung.
Kementerian menyebut telah menangkap empat orang yang diduga terlibat dalam aktivitas terorisme, mata-mata yang tidak terduga, serta puluhan anggota jaringan sabotase yang termasuk berupaya memicu tersebarnya di berbagai wilayah Iran.
Menurut pernyataan tersebut, operasi berlangsung di tiga provinsi, termasuk Provinsi Teheran yang menjadi pusat pemerintahan Iran.
Salah satu operasi yang disiarkan adalah penangkapan seorang mata-mata tak terduga di Provinsi Ilam, wilayah yang berbatasan langsung dengan Irak di bagian barat Iran.
Menurut Kementerian Intelijen Iran, individu tersebut diduga memiliki hubungan dengan agen intelijen Israel yang berbasis di London.
“Orang-orang tersebut berupaya menyusup ke lembaga-lembaga penting negara dan mentransfer informasi sensitif mengenai lokasi serta aktivitas pejabat senior,” demikian keterangan pejabat.
Selain itu, aparat keamanan Iran juga mengumumkan penangkapan empat anggota kelompok yang dituduh sebagai organisasi teroris di Provinsi Sistan dan Baluchistan, wilayah tenggara Iran yang berbatasan dengan Pakistan.
Pihak penerbit menyebut kelompok tersebut diam-diam sebelum sempat menjalankan operasi terhadap sejumlah institusi sipil.
Dalam keterangannya, pemerintah Iran mengatakan para tersangka telah dicatat dalam sistem peradilan dan sebelumnya diduga dengan dugaan rencana serangan terhadap kelompok pengungsi asing yang tinggal di wilayah Ghasr Ghand dan Saravan pada tahun 2025.
Operasi penindakan tersebut juga melibatkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang melakukan penggerebekan terhadap lokasi persembunyian para tersangka.
Dalam penggerebekan itu, aparat melaporkan menyita sembilan pucuk senapan jenis Kalashnikov dan sekitar 2.000 butir amunisi.
Kementerian Intelijen Iran juga mengungkap keberhasilan operasi lain yang dilakukan selama periode konflik, yang menurut mereka berakhir pada penangkapan 126 orang yang diduga terlibat dalam aktivitas sabotase.
Kementerian menyatakan sebagian dari mereka merupakan tokoh yang disebut sebagai pemimpin kelompok kriminal di Teheran yang diduga berupaya menciptakan gangguan keamanan dan memicu selama konflik sedang berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah munculnya berbagai laporan yang menyebut Amerika Serikat dan Israel berupaya memanfaatkan situasi domestik di Iran untuk menekan pemerintah dan aparat keamanan negara tersebut.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beberapa kali menyampaikan bahwa salah satu tujuan tekanan terhadap Iran adalah mendorong perubahan politik di negara tersebut.
Namun demikian, pemerintah Iran menegaskan bahwa berbagai operasi keamanan yang dilakukan selama periode konflik telah memperkuat kemampuan negara dalam menjaga stabilitas serta mencegah gangguan keamanan di dalam negeri.