Harakatuna.com. Jakarta – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa perayaan Lebaran memiliki peran penting sebagai perekat masyarakat Indonesia. Menurutnya, hari raya Idulfitri bukan sekadar perayaan keagamaan, namun juga telah menjadi bagian dari budaya Nusantara yang memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon dalam ucapan Idulfitri 1447 Hijriah yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, @fadlizon, Jumat (20/3).
Fadli menjelaskan, meskipun setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi Lebaran yang berbeda-beda, semuanya tetap memiliki tujuan yang sama, yakni merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadhan. “Setiap daerah memiliki cara yang unik dalam merayakan Lebaran, tetapi semuanya tetap berada dalam satu payung budaya Nusantara,” ujar Fadli.
Ia menuturkan, kekayaan budaya Nusantara dapat terlihat dalam berbagai aspek perayaan Lebaran, baik yang bersifat nyata (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible). Dalam aspek kuliner, misalnya, setiap daerah memiliki hidangan khas yang kerap disajikan saat Lebaran. Menu beragam seperti ketupat, opor ayam, rendang, hingga aneka kue kering menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi tersebut.
“Mulai dari ketupat, opor ayam, rendang, hingga kue kering, setiap daerah memiliki cita rasa khas. Makanan Lebaran itu bersifat nyata, tetapi juga menyimpan cerita dan kenangan keluarga,” katanya.
Selain kuliner, tradisi berbusana juga mencerminkan kekayaan budaya Nusantara. Beragam pakaian tradisional seperti baju koko, songket, kebaya, hingga sarung sering dipilih masyarakat untuk dikenakan saat merayakan hari raya.
Menurut Fadli, penggunaan busana tersebut tidak hanya menjadi bagian dari gaya berpenampilan pada hari raya, tetapi juga menunjukkan rasa bangga terhadap identitas dan warisan budaya Nusantara.
Lebih jauh lagi, ia menambahkan bahwa nilai budaya yang bersifat intangible juga sangat terasa dalam perayaan Lebaran. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai kebiasaan sederhana yang dilakukan masyarakat, namun memiliki makna yang mendalam.
Beberapa di antaranya adalah tradisi bersilaturahmi dengan mengunjungi rumah tetangga dan kerabat, mudik ke kampung halaman, hingga memasak ketupat bersama keluarga menjelang hari raya. Menurut Fadli, berbagai tradisi tersebut menampilkan bagaimana Lebaran menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus menjaga nilai-nilai budaya.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus melestarikan tradisi Lebaran. Menurutnya, menjaga tradisi tersebut tidak hanya sekedar mempertahankan akar budaya, tetapi juga merawat warisan yang akan dilestarikan kepada generasi mendatang.
“Lebaran itu memiliki dimensi tangible dan intangible sekaligus—bisa disentuh, dirasakan, dan dijalani. Ini bukan sekedar hari raya, tapi cara bangsa ini menyatukan kebersamaan, toleransi, dan identitas budaya,” kata Fadli.