Harakatuna.com – Perkembangan teknologi digital memberikan banyak kemudahan dalam proses pembelajaran, komunikasi, hingga hiburan. Namun dibalik manfaat tersebut, penggunaan handphone (HP) yang berlebihan dan tidak seimbang telah menimbulkan berbagai tantangan baru, salah satunya adalah meningkatnya kasus intimidasi digital (penindasan maya) di kalangan peserta didik. Isu ini menjadi sorotan utama dalam seminar bertema “Bullying di Era Digital: Bagaimana Penggunaan HP yang Tidak Seimbang Mempengaruhi Perilaku dan Kesejahteraan Peserta Didik?” yang dihadiri di YPI Darul Ulum Ciawi.
Seminar ini bertujuan untuk membuka wawasan para siswa, guru, dan orang tua mengenai dampak penggunaan HP yang tidak terkendali terhadap perilaku anak serta bagaimana hal itu dapat memicu tindakan bullying. Para pemateri menekankan bahwa intensitas penggunaan HP tanpa pengawasan dapat mempengaruhi pola pikir dan emosi peserta didik. Banyak siswa yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya sehingga menjadi lebih rentan terhadap pengaruh negatif seperti konten kekerasan, kebencian, dan perilaku agresif.
Salah satu fokus utama yang dibahas adalah bagaimana HP menjadi media terjadinya cyberbullying. Berbeda dengan bullying, cyberbullying konvensional terjadi melalui media sosial, aplikasi pesan, atau platform game online. Bentuknya beragam, mulai dari menghina, menyebarkan foto tanpa izin, menyindir, hingga mengucilkan seseorang dalam grup.
Semua ini dapat berlangsung selama 24 jam, tanpa batas ruang dan waktu, sehingga seringkali dampaknya lebih berat bagi korban. Banyak peserta didik merasa bahwa dunia maya adalah ruang aman, tetapi tanpa pengawasan, justru dapat berubah menjadi ruang yang penuh tekanan psikologis.
Penggunaan HP yang tidak seimbang juga mempengaruhi kesejahteraan mental dan emosional. Siswa yang terlalu sering melihat konten-konten beracun atau terlibat dalam interaksi negatif cenderung mengalami stres, kecemasan, rendah diri, bahkan depresi. Selain itu, Kecanduan HP membuat siswa kurang tidur, sulit fokus belajar, dan mudah marah. Dalam seminar ini disampaikan bahwa perubahan perilaku ini merupakan tanda yang harus segera direspon oleh guru dan orang tua.
Tak hanya memaparkan masalah, seminar di YPI Darul Ulum Ciawi juga menawarkan solusi. Para pemateri mengajak seluruh peserta untuk menerapkan penggunaan HP yang lebih seimbang dan bertanggung jawab, seperti mengatur durasi harian, menghindari penggunaan HP sebelum tidur, dan membangun kebiasaan digital yang sehat. Guru juga terdorong untuk memberikan edukasi literasi digital, mengajarkan etika berinternet, serta membuka ruang komunikasi yang aman bagi siswa yang mengalami perundungan.
Orang tua pun diajak berperan aktif dalam mendampingi anak. Dialog terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci untuk memahami apa yang alami mereka di dunia maya. Selain itu, lingkungan sekolah perlu memiliki mekanisme pelaporan dan penanganan bullying yang jelas agar siswa merasa terlindungi.
Seminar ini menegaskan bahwa penggunaan HP bukanlah sesuatu yang harus dilarang, namun harus diarahkan. Dunia digital dapat menjadi ruang belajar yang positif bila digunakan dengan bijak. Dengan kerja sama antara sekolah, orang tua, dan siswa, bullying di era digital dapat diminimalkan, dan peserta didik dapat tumbuh menjadi generasi berkarakter, sehat, dan berdaya.