Harakatuna.com. Damaskus – Militer Amerika Serikat melancarkan puluhan serangan terhadap sasaran kelompok Islamic State (ISIS) di Suriah sebagai respons atas terbunuhnya dua prajurit dan seorang penerjemah sipil Amerika dalam serangan sebelumnya.
Komando Pusat AS (United States Central Command/CentCom) menyatakan telah melakukan sedikitnya 10 serangan terhadap lebih dari 30 target ISIS sejak 3 Februari hingga Kamis. Operasi tersebut dilakukan untuk mempertahankan tekanan militer berkelanjutan terhadap sisa jaringan kelompok tersebut. “Serangan ini dilakukan untuk mempertahankan tekanan militer tanpa henti terhadap sisa-sisa jaringan teroris tersebut,” demikian pernyataan CentCom.
Dalam kurun satu setengah minggu terakhir, serangan terkonsentrasi pada infrastruktur dan fasilitas penyimpanan senjata ISIS. Operasi dilakukan menggunakan amunisi presisi yang diluncurkan dari pesawat sayap tetap, helikopter, serta pesawat tanpa awak, sebagaimana disampaikan pejabat CentCom yang dikutip UPI, Minggu (15/2/2026).
Operasi ini merupakan kelanjutan dari Operasi Hawkeye Strike yang digelar CentCom menyusul penyergapan ISIS pada 13 Desember lalu. Dalam kejadian tersebut, dua anggota Garda Nasional Iowa, Sersan Edgar Brian Torres-Tovar (25) dan Sersan William Nathaniel Howard (29), serta penerjemah sipil mereka, Ayad Mansoor Sakat (54) asal Michigan, tewas. Tiga anggota pasukan keamanan Suriah juga dilaporkan mengalami luka-luka.
Komandan CentCom, Laksamana Brad Cooper, menegaskan komitmen militer AS untuk terus memburu pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap personel Amerika. “Tidak ada tempat aman bagi mereka yang melakukan, merencanakan, atau menginspirasi serangan terhadap warga Amerika dan prajurit kami. Kami akan menemukan Anda,” ujar Cooper dalam pernyataannya setelah pasukan AS mengirimkan Bilal Hasan al-Jasim yang disebut berafiliasi dengan Al-Qaeda pada Januari lalu.
Selain itu, CentCom juga melaporkan telah melakukan lima serangan tambahan terhadap lokasi komunikasi, simpul logistik, serta fasilitas penyimpanan senjata ISIS pada periode 27 Januari hingga 2 Februari. Dalam dua bulan terakhir, operasi militer AS di Suriah diperkirakan telah mengambil atau menangkap lebih dari 50 militan ISIS dan menghancurkan lebih dari 100 lokasi infrastruktur kelompok tersebut dengan ratusan amunisi presisi.
Pasukan Suriah juga membantu upaya tersebut dengan menggagalkan usaha ISIS membangun kembali jaringan dan kapasitas operasionalnya. Pada hari Jumat, sebanyak 5.700 tahanan dilaporkan dipindahkan ke Irak untuk menjalani proses peradilan.
Langkah ini berlangsung di tengah kebijakan militer AS yang mulai mengurangi jumlah pasukannya di Suriah, termasuk dengan mengevakuasi pangkalan militer di al-Tanf setelah satu dekade penempatan di wilayah tersebut.