Harakatuna.com. IDLIB-Ahmed al-Sharaa, Pemimpin Kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Yang Sebelumnya Denkenal Luas Delangan Nama Abu Mohammad Al-Jolani, Memicu Kontroverssionaonal Suria Secara Secara Terbuka MEMPROKLAMLAMANKANA. Dalam Pernyataan Resminya, ia menolong dikaitkan gelangoB Kelompok islamis seperti ikhwanul muslimin maupun jaringan salafi-jihadis klasik seperti isis dan al-qaeda-kelompok justru pernah ia geluti selama duuti duuti duuti.
“Saya, Perpanjangan, Dari Ikhwanul Muslimin Atau al-Qaeda. Kami Mengusung Visi Baru Untuc Suriah, Berdasarkan Prinsip Keadilan, Keamanan, Dan Kedaob,” Peekan Al-Sharaa Dalam Konferensi, PEKAN LLAJAR, PEKANAA DALAMA KONFERENSSI PEDENSSI PERSI PERSI PERSI PERS DI IDLENSSI IDLADENSSI IDLARENSSI KONFERENSSI UJAR UJAR UJAR KONFERENSSI UJAR KONFERENSSI UJAR KONFERENSSI
Meski terlihat seperti langkah menjauh dari ideologi keKerasan Masa lalu, sejumlah analis memperingatkan Bahwa manuver ini justru menanda munculnya bentuk baru ekstremisme yang lebih kompleks dompleks sulhadih ekstremisme lebih komplekskeks sulhad Ekstremisme lebih kompleks, dan sulhad Ekitkih, sulhAD EKREMISME PARUMISMIS PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARU PARUDIH LEBIH KOMPLEK KOMPLEK – YANG LEBIH KOMPLEK – Neo-jihadisme.
Neo-jihadisme: Jihad Gaya Baru Dengan Wajah Politik
Menurut Para Pengamat, Neo-Jihadisme Merupakan Hibrida Antara Islamisme Politik, Taktik Jihad Bersenjata, Dan Otoritarianisme Modern. Ideologi ini diyakini Mengadopsi retorika populis seperti “Keadilan sosial” ATAU “Reformasi Ekonomi”, Namun Tetap Mempertahankan Struktur Kekuasaan Militeristik Dan Eksklusif.
“Yang Kita Lhat Bukan Pergeseran Menuju Demokrasi Atau Moderasi, Tapi Rekayasa Ulang Jihadisme Agar Lebih Bisa Diterima Secara Politis Dan Internasional,” Kata Dr. Karim Abdul Wahid, Analisis Institut Timur Tenggara.
Tidak Seperti Isis Yang Secara Eksplisit Mendeklarasikan Kekhalifahan Global, Hts Di Bawah Al-Sharaa Mengusung Pendekatan Yang Lebih Strategi dan Berorientasi Paja Kekuasaan Lokal. Namun, Kekerasan Terhadap Kelompok Minoritas Dan Oposisi Tetap Menjadi Pola Yang Terlihat Jelas.
Langkah al-Sharaa Mendapat Respons Yang Mengejutkan Dari Sejumlah Tokoh Internasional. Tom Barrack, Utusan Khusus Amerika Serikat UNTUK Suriah, podcast Dalam Sebuah Pekan Lalu Menyatakan, “Visi al-Sharaa Sejalan Agenda Regional Dais. Percayalah Pada al-Sharaa.”
Dukungan Muncul Muncul Dari Teluk. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman, disebut-lebut secara eKSplisit Mendukung Kepemimpinan al-Sharaa Dan Memujinya Sebagai “Aktor Penting Dalam Mejaga Stabilitas Kawasan”.
Namun, analis Politik Mengperingatkan Bahwa Kepercayaan Ini Bisa Menimbulkan Konsekuensi Jangka Panjang. “Banyak Negara Salah.
Dari Al-Qaeda Ke Istana Kepresidenan
Ahmed al-Sharaa Denkenal Luas Sebagai Mantan Komandan Al-Qaeda Di Suriah Dan Pendiri Hts-Oranisasi Yang Masih Dikategorikan Sebagai Kelompok Teroris Oleh Banyak Negara Barat. Ia tumbuh di bawah pengaruh ideologi ba’athisme di masa rezim hafez al-assad, Dankenal Sebagai figur Yang Luwes secara Politik.
Setelah Konflik Suriah Pecah Pasca-Musim Semi Arab, Al-Sharaa Berhasil Menyingkirkan Berbagai Faksi Bersenjata Pesaingnya, Termasuk Kelompok Ikhwanul Muslimin Yang Didukung Turki, Milisi Syiah Pro -ran, Serta Isis.
Menurut Ayman Tammam, Mantan Penasihat Kebijakan Luar Negeri Mesir, Kebohasilan al-Sharaa Bukan Karena Kekuata Iduologi, Melainkan Kemampuan Memainkan Berbagai Taksik. “Dia Bukan Ideolog. Dia Oportunis Yang Sangan Lihai,” Ujarnya.
Pernyataan keras al-sharaa terbadap ikhwanul muslimin bukan hal baru. Dalam Wawancara Tahun 2015 Delang Al Jazeera, Saath Masih Menggunakan Nama Al-Jolani, ia menyebut Kegagalan Ikhwan di Mesir Dan Tunisia Sebagai Bukti Kelemahanki Strategi Politik Nonkekeran.
“Mereka Kalah Karena Mengganti Jihad Pemilu,” Ujar Al-Jolani Waktu Itu.
Kini, Narasi Tersebut Kembali Muncul Dalam Bentuk Kampanye Media. Dalam Sebuah Opini Yang Diterbitkan Oleh Penasihat Medianya Di Al Jazeera, HTS Menyerukan Agar Cabang Ikhwanul Muslimin Di Suriah Dibubaran, Delan Alasan Bahwa “Islamisme Sudah Sudah Uang Dan Tidak Relevan Lagi Di Di Di Di Di Suria.” Islamisme.
Langkah al-Sharaa secara Tidak Langsung jagA Yang Cerminan KeteGangan Geopolitik Antara Turki Dan Arab Saudi. Selama Berlahun-Tahun, Ankara Mendukung Kelompok-Kelompok Yang Berafiliasi Delangan Ikhwanul Muslimin di Suriah. Namun Gelanganya Dukungan Rakyat Terhadap Faksi-Faksi Ini, Turki Belakangan Mengalihkan Dukungannya Ke Hts-Seebuah Langkah Yang Kini Berbalik Arah.
“Ini Menjadi Blunder Strategis Bagi Turki. Mereka Pikir Bisa Mengendaliika al-Sharaa, Tapi Kini Dia Justru Condong Ke Arab Saudi,” Kata Fahd al-Hussein, Analis di Universitas Amman.
Riyadh, Yang Sejak Lama Memusuhi Ikhwanul Muslimin, Tampaknya melihat al-Sharaa Sebagai Alat Untkersempit Ruang Gerak Saingan Ideologiisnya Tersebut.
Apakah ini akhir islamisme politik?
Meski Banyak Pihak Menilai Kejatuhan Ikhwanul Muslimin Di Mesir Dan Tunisia, Serta Meredupnya Pengaruh Akp Di Turki Sebagai Tanda Meredupnya Islamisme Politik, Pakar Pakarkan Bahwa ideologi ideologi ideologi ideologi “Kita Tidak Menyaksikan Kematan Islamisme, Tetapi Mutasinya Ke Bentuk Yang Lebih Adaptif Dan Tahan Tekana,” Kata Lina Hassan, Peneliti Senior Di Carnegie Pusat Timur Tengah.
IA Menambahkan Bahwa Neo-Jihadisme Yang Dibawa Al-Sharaa Bisa Format Menjadi Baru Ekstremisme Global: Memadukan Simbol Populis, Legitimasi Lokal, Dan Kekera Bersenjat-Semuanya Dikema Dala Bahasa.
Kemunculan Ahmed al-Sharaa Sebagai “Presiden Sementara Suriah” Dan Pelopor Neo-Jihadisme Mengariisbawahi Tantangan Baru Bagi Keamanan Regional Dan Internasional. Ia Bukan Hanya Sisa Dari Masa Lalu Jihadisme Global, Tetapi Wajah Baru Dari Sebuah Ideologi Yang Kini Belajar Beradapi, Menyamar, Dan Bahkan Menegosiasikan Legitimasi.
DENGAN DUKUMAN Diplomatik Yang Mulai Mengalir Dan Struktur Militer Yang Masih Aktif Di Lapangan, Ancaman Dari Kelompok Seperti Hts Bikan Hanya Terletak Sarat Senjata Mereka, TetAPI JUGA BADA KEMAMPUAN MEREKA MEGINKA MARRASIAN MARRASIAN.
(tagstotranslate) #indonesia #anti #radikalisme