Harakatuna.com. Semarang — Suasana riuh mewarnai kegiatan pelatihan usaha mikro di Gedung UPTD PLUT UMKM, Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Gayamsari, Semarang, Jumat (26/4/2026). Puluhan pelaku UMKM tampak antusias mengikuti pembekalan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang guna mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti pelaku usaha umum, tetapi juga melibatkan mantan musuh-musuh terorisme (napiter) yang berupaya membangun kehidupan baru melalui jalur kewirausahaan. Seorang peserta, Supriyanto, mengaku tertarik mengikuti pelatihan tersebut untuk mengembangkan usaha ayam ungkep yang telah ia jalankan beberapa bulan terakhir.
“Sudah beberapa bulan ini saya jualan ayam ungkep di rumah. Ya, hitung-hitung untuk mencari penghasilan demi menghidupi keluarga,” ujarnya.
Ia pun mengajak rekannya, Andi Wibowo, untuk ikut serta dalam pelatihan bersama peserta lainnya. Keduanya memiliki tekad yang kuat untuk meninggalkan masa lalu dan fokus pada pengembangan usaha. “Dengan pelatihan ini kami mulai mempelajari aspek legalitas usaha, terutama untuk memperluas pemasaran agar bisnis bisa berkembang lebih baik,” kata Supriyanto.
Ia juga berharap pemerintah kota dapat membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya. “Saya ingin tahu bagaimana pemerintah kota memberikan kesempatan agar usaha makanan ini bisa berkembang lebih luas,” tambahnya.
Ketua Yayasan Persadani Semarang, Sri Puji, menjelaskan bahwa mantan napiter kerap menghadapi tantangan sosial saat kembali ke masyarakat, terutama stigma negatif dari lingkungan sekitar. “Sering kali mereka dijauhi karena kekhawatiran akan paparan. Oleh karena itu, kami selalu menekankan pentingnya memulai usaha dari nol dan tidak berkecil hati. Hal-hal positif pasti akan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Margaritha Mita Dewi Sopa, menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 30.800 usaha mikro di Semarang yang telah memiliki izin. Namun, ia mengakui masih ada pelaku usaha, termasuk ekskavator, yang belum menyentuh legalitas.
Ia pun mendorong para pelaku usaha untuk aktif bergabung di koperasi desa dan kelurahan Merah Putih sebagai bagian dari penguatan ekonomi bersama. “Kami menargetkan terbentuknya 177 koperasi desa dan kelurahan di Kota Semarang,” ungkapnya.
Dari sisi keamanan, Bripka Purnomo Budi Setiyawan dari Satbinmas Polrestabes Semarang menegaskan bahwa pendekatan ekonomi menjadi strategi penting dalam mencegah kembalinya paham radikal. “Kami menjembatani sekitar 20 mantan napiter dari Yayasan Persadani untuk mengikuti pelatihan izin usaha sebagai langkah awal menuju kemandirian,” jelasnya.
Ia menyambut baik inisiatif Pemerintah Kota Semarang yang melibatkan mantan napiter dalam program pemberdayaan ekonomi. Menurutnya, kemandirian finansial dapat menjadi benteng awal agar mereka tidak kembali ke jaringan lama. “Dengan kemandirian ekonomi, setidaknya mereka memiliki pegangan untuk tidak kembali ke lingkungan sebelumnya,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta, khususnya mantan napiter, mampu membangun usaha yang berkelanjutan sekaligus memperkuat proses reintegrasi sosial di tengah masyarakat.