Harakatuna.com. Washington – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat menjelang berakhirnya jangka waktu yang diberikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Iran pada Selasa (7/4/2026). Situasi di lapangan menunjukkan indikasi kuatnya perubahan dari jalur diplomasi menuju kemungkinan operasi militer besar yang menargetkan strategi infrastruktur Teheran.
Pakar militer Nidal Abu Zaid menyatakan bahwa pergerakan militer Amerika Serikat sejak Senin malam mengindikasikan adanya persiapan serangan udara yang berskala terbatas, namun mencakup wilayah yang luas.
Menurutnya, sejumlah langkah strategi telah dilakukan Washington dalam 24 jam terakhir. Di antaranya adalah pengiriman pesawat pengebom siluman B-2 Spirit ke beberapa pangkalan udara di Eropa serta penyiapan rudal jelajah Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM) yang memiliki hulu ledak sekitar 910 kilogram dengan jangkauan hingga 950 kilometer.
Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga mulai memberlakukan kebijakan ketat terhadap perusahaan satelit komersial dalam mengambil citra udara wilayah Iran. Kebijakan tersebut diperkirakan bertujuan untuk mengendalikan narasi visual jika serangan militer benar-benar terjadi.
Di sisi lain, otoritas di Israel telah mengeluarkan instruksi darurat kepada warganya untuk mulai memanfaatkan terowongan dan stasiun metro sebagai tempat perlindungan. Langkah tersebut mengungkapkan kekhawatiran akan kemungkinan balasan serangan dari Iran, terutama melalui rudal jarak jauh.
Laporan dari lembaga penerbit publik Israel menyebutkan bahwa Tel Aviv tengah bersiap melakukan operasi militer gabungan bersama Amerika Serikat untuk menggempur infrastruktur penting Iran setelah ultimatum Trump berakhir pada Selasa pukul 20.00 waktu setempat.
Sementara itu, meskipun kemampuan pemeliharaannya dilaporkan telah melemah sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, Iran mulai kembali mengaktifkan sistem pemeliharaan udara di sekitar ibu kota Teheran.
Kolonel Abu Zaid menilai langkah tersebut sebagai sinyal bahwa Iran masih bersiap menghadapi kemungkinan serangan besar.
“Iran sedang menunjukkan bahwa mereka tidak akan menyerah meskipun berada di bawah ancaman kehancuran total,” katanya.
Dalam pernyataan terbarunya, Presiden Trump menegaskan bahwa ultimatum yang diberikan kepada Iran bersifat final. Ia menuntut Teheran untuk menyerah atau menghadapi kehancuran besar pada sektor infrastruktur energi dan transportasi.
“Jika tidak menyerah, mereka tidak akan lagi memiliki jembatan maupun pembangkit listrik,” kata Trump, sambil menegaskan kembali ancamannya untuk “mengembalikan Iran ke Zaman Batu”.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026 tersebut telah menimbulkan dampak besar di Iran, termasuk laporan terbunuhnya sejumlah pemimpin militer dan tokoh penting negara itu, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Kini, dunia menanti apakah sisa waktu ultimatum tersebut akan berakhir dengan perjanjian diplomatik atau justru memicu gelombang perang baru yang berpotensi mengguncang kawasan Timur Tengah.