Harakatuna.com. New York – Situasi di depan kediaman resmi Wali Kota New York City, Gracie Mansion, tiba-tiba mencekam pada Sabtu waktu setempat setelah sebuah bom rakitan dilemparkan ke arah kepadatan massa yang tengah menunjukkan rasa. Insiden tersebut terjadi di tengah ketegangan antara dua kelompok demonstran yang saling berseberangan.
Kepolisian New York atau New York Police Department (NYPD) mengonfirmasi bahwa perangkat yang dilemparkan merupakan alat peledak improvisasi (IED) atau bom rakitan yang berpotensi menimbulkan korban serius.
Menurut aparat penegak hukum, dua pria telah diamankan terkait peristiwa tersebut. Sumber kepolisian yang dikutip CNN menyebutkan bahwa kedua tersangka mengaku terinspirasi oleh kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) saat melakukan aksi tersebut.
Kronologi Kejadian
Insiden bermula ketika kelompok yang dipimpin oleh aktivis sayap kanan Jake Lang menggelar aksi demonstrasi bernada anti-Islam di luar kawasan Gracie Mansion, kediaman resmi Wali Kota New York. Aksi tersebut memicu kehadiran sekitar 125 orang dari kelompok kontra-protes yang mengusung slogan “Usir Nazi Keluar dari New York”.
Ketegangan meningkat sekitar pukul 12.15 siang ketika salah seorang peserta aksi dari kelompok Lang menyemprotkan gas merica ke arah massa. Sekitar 20 menit kemudian, seorang pemuda berusia 18 tahun dari kelompok kontra-protes menyalakan bom rakitan dan melemparkannya ke arah area pendakian.
Komisioner NYPD Jessica S. Tisch mengatakan perangkat peledak tersebut jatuh di area penyeberangan jalan. “Saksi melaporkan melihat api dan asap saat benda itu melayang di udara sebelum menabrak penghalang jalan dan akhirnya padam hanya beberapa kaki dari petugas polisi,” ujar Tisch.
Setelah pelemparan bom pertama, pelaku disebut berusaha mengambil bom kedua dari rekannya yang berusia 19 tahun. Namun aparat keamanan yang segera mengamankan lokasi dan menangkap keduanya sebelum perangkat kedua sempat diledakkan.
Tim penjinak lahir dari NYPD kemudian melakukan pemeriksaan awal terhadap dua perangkat tersebut. Ukurannya sedikit lebih kecil dari bola sepak dan dibuat dari atasan yang dililit dengan penutup hitam. Di dalamnya ditemukan campuran bahan peledak rakitan serta serpihan logam seperti mur, baut, dan sekrup yang dirancang untuk memperbesar dampak ledakan.
Penyelidik saat ini masih meneliti kemungkinan adanya campuran TATP (triacetone triperoxide), yakni bahan peledak yang dikenal sangat tidak stabil dan mudah meledak.
Pada hari Minggu, aparat juga menemukan perangkat mencurigakan lain di dalam sebuah kendaraan yang terparkir beberapa blok dari lokasi kejadian. Polisi mencurigai benda tersebut berkaitan dengan kejadian pelemparan bom yang terjadi sehari sebelumnya.
Tanggapan Pemerintah Kota dan Negara Bagian
Wali Kota New York Zohran Mamdani mengecam keras aksi kekerasan tersebut. Ia menilai meskipun kebencian kelompok Lang dipicu oleh sikap intoleran, penggunaan kekerasan tetap tidak dapat dibenarkan.
“Kekerasan dalam protes tidak pernah bisa diterima. Upaya menggunakan perangkat peledak untuk melukai orang lain bukan hanya tindakan kriminal, tetapi juga tercela dan bertentangan dengan nilai-nilai kita,” kata Mamdani.
Sementara itu, Gubernur Negara Bagian New York Kathy Hochul menegaskan bahwa pemerintah menghormati hak masyarakat untuk melakukan aksi protes secara damai, namun tidak akan menoleransi kebencian maupun kekerasan.
Pihak NYPD juga memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan indikasi bahwa kejadian tersebut berkaitan langsung dengan konflik yang tengah berlangsung di Iran. Meski demikian, penyelidikan masih terus dilakukan mengingat tingginya tingkat ancaman keamanan yang sedang dihadapi.