Harakatuna.com. Purwokerto – Edukasi mengenai kerukunan antarumat beragam dinilai perlu terus diperkuat untuk membendung penyebaran paham ekstrem radikal di kalangan generasi muda. Penanaman nilai toleransi sejak dini dianggap sebagai langkah strategi agar remaja tidak mudah mempengaruhi doktrin yang memecah belah persatuan bangsa.
Hal tersebut disampaikan Guru MA TQI Sambas Purbalingga, Ustaz Hanu Permono, S.Pd.I, dalam program SPADA Pro 2 RRI Purwokerto yang membahas tema toleransi dan radikalisasi.
Menurut Ustaz Hanu, kelompok radikal kerap menyasar individu yang memiliki pemahaman agama secara dangkal dan cenderung kaku dalam memandang perbedaan.
“Radikalisasi sering kali menyasar seseorang yang memiliki pemahaman agama setengah-setengah dan cenderung kaku. Peran lembaga pendidikan seperti madrasah sangat krusial dalam membentuk cara berpikir siswa yang damai dan inklusif,” ujar Ustaz Hanu.
Ia menegaskan, lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab besar dalam membangun karakter pelajar yang moderat, terbuka, dan menghargai keberagaman. Menurutnya, sekolah dan madrasah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang terbentuknya nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Hanu juga menyoroti pentingnya dialog terbuka antara guru dan murid dalam membahas isu-isu sosial maupun keagamaan. Pendekatan persuasif dan humanis dinilai lebih efektif untuk pemahaman pemahaman yang keliru dibandingkan metode penghakiman yang justru dapat memicu sikap defensif pada remaja.
“Anak-anak muda perlu diajak berdiskusi dan memberikan pemahaman secara bijak. Pendekatan yang penuh empati akan lebih mudah diterima dibandingkan cara-cara yang menyudutkan,” katanya.
Selain lingkungan pendidikan, ia mengingatkan pentingnya keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak, terutama di media sosial. Menurutnya, ruang siber saat ini menjadi salah satu media yang kerap dimanfaatkan kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda dan mempengaruhi generasi muda.
Pengawasan dan pendampingan orang tua dinilai sangat penting agar anak tidak mudah terpapar konten yang mengandung intoleransi maupun ajaran ekstremisme. Ustaz Hanu pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan toleransi sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar slogan.
“Dengan menjaga toleransi, saling menghormati, dan memperkuat persatuan, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman, harmonis, serta terhindar dari pengaruh radikalisme,” tegasnya.
Melalui penguatan nilai toleransi dan moderasi beragama, diharapkan generasi muda Indonesia mampu tumbuh menjadi pribadi yang kritis, terbuka, serta memiliki semangat kebangsaan yang kuat di tengah derasnya arus informasi digital.