Harakatuna.com. Ende — Kerukunan antarumat beragama di Indonesia menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial. Derasnya arus informasi yang tidak selalu diimbangi dengan pemahaman yang baik dinilai berpotensi memicu kesalahpahaman hingga memperkuat sentimen keagamaan di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, penguatan moderasi beragama dan toleransi pendidikan sejak usia dini diukur menjadi langkah penting untuk menjaga persatuan bangsa di masa depan. Pandangan tersebut disampaikan Bruder Hans Ebang dalam Dialog Moderasi Beragama yang disiarkan Radio Republik Indonesia (RRI) Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (2/6/2026).
Menurut Bruder Hans, meskipun Indonesia menghadapi berbagai dinamika sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat, optimisme terhadap masa depan kerukunan antarumat beragama harus tetap dipertahankan. Ia menegaskan bahwa keberagaman agama, suku, budaya, dan tradisi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari identitas bangsa Indonesia. Selama ini, nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong royong terbukti menjadi fondasi yang kuat dalam menjaga keharmonisan di tengah berbagai perbedaan.
“Keberagaman adalah kekuatan bangsa yang harus terus dipelihara. Pancasila dan semangat gotong royong telah menjadi perekat yang mampu menjaga persatuan Indonesia di tengah kemajemukan,” ujar Bruder Hans.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan media sosial menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan berbangsa dan beragama. Informasi yang menyebar dengan sangat cepat sering kali tidak disertai pemahaman yang utuh sehingga berpotensi memunculkan prasangka dan memperluas sentimen keagamaan, terutama pada momen-momen tertentu seperti kontestasi politik.
Menurutnya, kondisi tersebut harus diantisipasi melalui penguatan pendidikan moderasi beragama yang dimulai dari lingkungan keluarga dan sekolah. Bruder Hans menekankan bahwa anak-anak perlu diajarkan untuk menghargai sesama manusia terlebih dahulu sebelum memahami berbagai perbedaan agama, budaya, dan latar belakang sosial lainnya.
“Pendidikan toleransi harus dimulai sejak dini. Anak-anak perlu dibiasakan untuk menghormati sesama manusia terlebih dahulu, sehingga ketika mereka mengenal perbedaan agama dan budaya, mereka mampu menyikapinya dengan sikap terbuka dan saling menghargai,” katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut lebih efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang menghormati keberagaman. Selain keluarga, lembaga pendidikan juga memiliki peran strategis sebagai ruang perjumpaan berbagai identitas yang dapat memperkuat sikap toleran. Bruder Hans menjelaskan bahwa kurikulum yang inklusif serta lingkungan belajar yang terbuka dapat membantu peserta didik memahami keberagaman sebagai kekuatan bersama, bukan sebagai ancaman yang memecah belah.
Di sisi lain, generasi muda juga dituntut untuk lebih bijak dalam memanfaatkan media digital. Keterbukaan terhadap berbagai informasi dan gagasan harus diimbangi dengan pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai agama dan kebangsaan agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mengandung kebencian maupun perpecahan.
“Kerukunan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi dibangun melalui pendidikan, dialog, dan kesediaan untuk saling memahami. Generasi muda harus menjadi pelopor perdamaian dan penjaga persatuan Indonesia,” tegas Bruder Hans.