Harakatuna.com. Kuala Lumpur – Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengecam keras pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang disebut terjadi dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai tindakan tersebut berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial X pada Ahad (2/3), Anwar menegaskan bahwa aksi tersebut dapat memicu instabilitas berkelanjutan di kawasan. “Tindakan ini menempatkan Timur Tengah di tengah ketidakstabilan yang serius dan berkelanjutan,” ujarnya.
Anwar juga menyampaikan duka cita mendalam kepada pemerintah dan rakyat Iran atas kejadian tersebut. Ia memperingatkan bahwa penargetan terhadap seorang kepala negara merupakan langkah berbahaya yang dapat merusak tatanan global. “Penargetan yang disengaja terhadap seorang kepala negara menetapkan preseden berbahaya dan meningkatkan norma serta prinsip yang menopang tatanan internasional,” tambahnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Anwar mendesak Teheran untuk merespons situasi dengan penuh pengendalian diri. Ia juga mengirim ke semua pihak agar menghindari eskalasi lebih lanjut. “Kami mendesak semua pihak untuk mundur dari eskalasi dan memilih jalan diplomasi,” katanya.
Pemerintah Malaysia, lanjut Anwar, akan segera mengkaji dampak ekonomi akibat konflik tersebut, termasuk potensi gangguan terhadap wilayah udara regional serta kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan dan distribusi energi terpenting di dunia.
“Kuala Lumpur akan segera memberikan dampak ekonomi dari konflik ini, termasuk risiko terhadap wilayah udara regional dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz. Keamanan perdagangan dan energi Malaysia terlibat langsung,” tegasnya.
Anwar memastikan pemerintahnya akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melindungi kepentingan nasional. “Kami akan mengambil tindakan seperlunya untuk menjaga kepentingan nasional kami,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Anwar memecahkan kekerasan secepat mungkin serta mengedepankan dialog sebagai solusi. “Kami mengungkapkan gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, dan mengembalikannya semua pihak ke dialog yang serius. Krisis ini tidak dapat diselesaikan dengan paksa. Ini membutuhkan diplomasi, pengekangan, dan kemauan politik,” tutupnya.