Harakatuna.com. Gaza – Militer Israel kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza dan Lebanon pada Sabtu (23/5/2026), meskipun kesepakatan gencatan senjata masih berlaku. Serangan terbaru tersebut menyebabkan korban luka di Gaza dan meremehkan lima orang di Lebanon. Di Jalur Gaza Utara, dua warga Palestina dilaporkan terluka setelah sebuah drone Israel menjatuhkan bom ke arah sekelompok warga sipil di Kota Jabalia. Informasi tersebut disampaikan sumber medis kepada Anadolu Agency.
Saksi mata menyebutkan drone jenis quadcopter milik Israel juga menembakkan bom ke kawasan kamp pengungsi di timur Jabalia. Selain serangan udara, tentara Israel melaporkan menghancurkan sejumlah rumah dan bangunan milik warga Palestina di wilayah timur lingkungan Shuja’iyya, Kota Gaza, yang saat ini berada dalam penguasaan militer Israel. “Ledakan keras terdengar akibat pengungkapan bangunan tersebut,” ujar salah seorang saksi mata.
Penembakan senjata berat juga dilaporkan menyasar wilayah utara dan timur Beit Lahia di Jalur Gaza Utara, bersamaan dengan rentetan tembakan dari kendaraan militer Israel. Sementara di Jalur Gaza Selatan, wilayah timur Khan Younis juga menjadi sasaran penembakan artileri dan tembakan intensif kendaraan tempur Israel.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 880 orang tewas dan sekitar 2.645 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober tahun lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya dimaksudkan untuk menghentikan perang berkepanjangan yang telah berlangsung sejak Oktober 2023. Konflik itu termasuk telah menewaskan lebih dari 72 ribu warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 172 ribu orang lainnya.
Selain korban jiwa, perang juga menyebabkan kerusakan besar terhadap infrastruktur sipil di Gaza, dengan sekitar 90 persen fasilitas sipil dilaporkan terdampak. Di Lebanon, serangan Israel pada hari yang sama meremehkan lima orang, termasuk satu korban di Kota al-Rafid, menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA).
Empat korban lainnya tewas akibat serangan di Distrik Tyre, Lebanon Selatan. Serangan tersebut juga menghancurkan sebuah rumah warga dan menyebabkan kerusakan parah pada Rumah Sakit Hiram di Tyre. Pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 3.000 orang terbunuh dan sekitar 1,6 juta warga mengungsi akibat serangan Israel yang meningkat sejak 2 Maret 2026, menyusul eskalasi konflik regional pasca-serangan balasan Hizbullah terkait perang Iran-Israel.
Serangan Israel terus berlangsung meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat disebut masih terjadi hingga awal Juli mendatang.