Harakatuna.com. Sentul – Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar (MA) melakukan kunjungan silaturahmi ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Sentul sebagai langkah memperkuat sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam upaya pencegahan radikalisme, penanggulangan sensitivitas, serta penguatan nilai-nilai kebencian.
Rombongan PB Mathla’ul Anwar dipimpin langsung oleh Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar, Dr. KH. Jazuli Juwaini, MA, MM, didampingi Ketua Majelis Amanah KH. Embay Mulya Syarif, Ketua Majelis Fatwa Prof.Dr.KH. Syibli Sarjaya, Sekretaris Jenderal Yanuar Arif Wibowo, SH, MIPol., dan Bendahara Umum H. Ulfi Khadafi. Kehadiran mereka disambut Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono beserta jajaran.
Dalam pertemuan tersebut, Jazuli Juwaini menjelaskan bahwa Mathla’ul Anwar yang berdiri sejak tahun 1916 telah memberikan kontribusi di bidang pendidikan, dakwah, sosial, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat ini, organisasi tersebut memiliki satu perguruan tinggi, sekitar 3.000 madrasah, sekitar 17 juta warga, serta kepengurusan yang tersebar di 28 wilayah di Indonesia.
Menurutnya, potensi besar yang dimiliki Mathla’ul Anwar harus dioptimalkan melalui kolaborasi dengan pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan kebangsaan, termasuk ancaman radikalisme dan terorisme. “Sebagai organisasi Islam, Mathla’ul Anwar memiliki tanggung jawab persahabatan dan kenegaraan. Oleh karena itu, kami siap membangun kerja sama yang berkelanjutan dengan BNPT dalam upaya mencegah dan mengikis paham radikalisme,” ujar Jazuli.
Ia menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan radikalisme. Menurutnya, paham radikal muncul sebagai hasil pemahaman agama yang tidak utuh dan parsial. “Mathla’ul Anwar akan terus menanamkan semangat bela negara serta memberikan pemahaman keagamaan yang benar demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman radikalisme dan terorisme,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Amanah PB Mathla’ul Anwar, KH. Embay Mulya Syarif, menilai organisasinya merupakan mitra strategis BNPT dalam menyebarkan nilai-nilai Islam moderat. “Dakwah harus dilaksanakan dengan prinsip amar ma’ruf bil ma’ruf dan nahi munkar ghaira munkarsehingga umat Islam dapat terus menjadi perekat persatuan bangsa sekaligus menjaga keutuhan Indonesia,” ujarnya.
Embay juga mengapresiasi kerja sama antara Mathla’ul Anwar dan BNPT melalui Program Desa Siapsiaga yang telah berjalan di Menes. Program tersebut dinilai memberikan manfaat nyata melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti bantuan mesin produksi paving block bagi pesantren dan pembangunan infrastruktur jalan desa.
BNPT pun menyatakan komitmennya untuk mengembangkan Program Desa Siapsiaga di wilayah lain bersama Mathla’ul Anwar. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB Mathla’ul Anwar, Yanuar Arif Wibowo, mengusulkan agar pelatihan terhadap mantan ayah mertuanya menjadi salah satu fokus kerja sama antara kedua lembaga.
“Program deradikalisasi, khususnya pelatihan terhadap eks toleransi, dapat menjadi salah satu bentuk kerja yang sama konkret antara BNPT dan Mathla’ul Anwar,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa upaya mitigasi dan pencegahan radikalisme tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk organisasi kemasyarakatan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono menjelaskan bahwa pencegahan terorisme merupakan amanat undang-undang yang dijalankan melalui tiga pilar utama, yaitu kesiapsiagaan nasional, kontra-radikalisasi, dan deradikalisasi. Oleh karena itu, BNPT memandang Mathla’ul Anwar sebagai mitra strategi dalam memperkuat kesiapsiagaan nasional sekaligus mendukung pelaksanaan program deradikalisasi di tengah masyarakat.
BNPT juga mengajak Mathla’ul Anwar untuk ikut aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme, terutama di era digital. Menurut BNPT, ancaman terorisme kini semakin adaptif melalui fenomena radikalisasi diri yang memanfaatkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Kecerdasan Buatan/AI), sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan memilah informasi yang benar dan bersifat manipulatif.
Selain itu, BNPT menilai penguatan ideologi Pancasila, cinta tanah air, serta pembinaan terhadap mantan terdakwa terorisme harus terus diperkuat melalui dukungan aktif organisasi masyarakat.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat sinergi antara BNPT dan PB Mathla’ul Anwar dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi penyebaran paham radikalisme, memperkuat nilai-nilai Pancasila, serta menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).