Harakatuna.com. Moskow — Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengumumkan penangkapan tiga orang di tiga wilayah berbeda yang diduga bekerja sama dengan intelijen Ukraina untuk merencanakan serangan teroris terhadap personel militer Rusia serta fasilitas strategi di sektor transportasi dan energi.
Penangkapan dilakukan secara terpisah di Republik Adygea, wilayah Tyumen, dan Krai Krasnodar pada Rabu (17/6/2026), sebagaimana disampaikan FSB melalui pernyataan resmi. Dalam keterangannya, FSB menyebut tersangka ketiga diduga terlibat dalam rencana aksi sabotase dan terorisme yang menyasar anggota Angkatan Bersenjata Rusia, organisasi sukarelawan pendukung operasi militer Rusia, serta infrastruktur transportasi dan fasilitas sektor bahan bakar dan energi di wilayah tersebut.
“Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) telah menahan tiga orang yang bekerja sama dengan intelijen Ukraina di Republik Adygea, wilayah Tyumen, dan Krai Krasnodar,” demikian pernyataan resmi FSB yang dirilis di Moskow, Rabu (17/6/2026).
Menurut FSB, aparat keamanan berhasil mengidentifikasi dan menggagalkan aktivitas para tersangka sebelum rencana serangan dilaksanakan. Dalam proses penggeledahan, petugas menemukan dan menyita sebuah bom rakitan yang disebut dibuat menggunakan bahan peledak produksi luar negeri.
FSB juga mengungkap hasil pemeriksaan terhadap perangkat komunikasi milik para tersangka yang menunjukkan adanya komunikasi dengan pihak yang disebut sebagai pengontrol dari Ukraina. “Pemeriksaan terhadap perangkat komunikasi milik para tahanan mengungkap adanya korespondensi dengan pihak operator dari Ukraina yang berisi instruksi mengenai pelaksanaan serangan teroris yang direncanakan,” lanjut pernyataan tersebut.
Otoritas Rusia menyatakan telah membuka perkara pidana terhadap tersangka ketiga berdasarkan pasal yang mengatur tindakan pencegahan terorisme serta kepemilikan bahan peledak dan alat peledak ilegal. Hingga saat ini, belum terdapat tanggapan resmi dari pihak Ukraina terkait tuduhan yang disampaikan otoritas Rusia tersebut.
Kasus ini menambah panjang tuduhan yang saling dilontarkan antara Moskow dan Kyiv di tengah konflik yang masih berlangsung dan berdampak pada meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan.