Harakatuna.com. Makassar — Himpunan Mahasiswa Profesi (HMP) Teknologi Hasil Perikanan (THP), Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas), menggelar kegiatan Siswa Perikanan dan Pembelajaran Analisis Kritis (FISCAL) melalui agenda bedah film Hotel Mumbai di Ruang Senat FIKP Unhas, Makassar, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi penting bagi mahasiswa untuk memahami persoalan sosial dan kemanusiaan melalui pendekatan visual dan reflektif. Film Hotel Mumbai dipilih karena mengangkat peristiwa serangan teror di Mumbai, India, pada 26 November 2008. Film bergenre cerita menegangkan dan aksi tersebut menggambarkan situasi mencekam ketika sekelompok teroris bersenjata melakukan serangan terhadap Taj Mahal Palace Hotel yang menyebabkan banyak korban jiwa dan warga terjebak di dalam bangunan.
Salah satu anggota Divisi Pengkaderan HMP THP, Qhovifah, yang menjadi pembedah dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa tindakan terorisme tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi mempengaruhi berbagai faktor yang membentuk cara berpikir seseorang.
Menurutnya, salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang menuju tindakan ekstrem adalah adanya keyakinan mendasar yang dipadukan dengan doktrin tertentu serta respons yang berlebihan terhadap suatu persoalan. “Dalam beberapa kasus, seseorang dapat terjerumus pada tindakan terorisme karena memiliki keyakinan yang kemudian diperkuat oleh doktrin dan cara pandang yang ekstrem terhadap suatu kondisi,” ujarnya saat menyampaikan materi.
Ia menambahkan bahwa proses pembelajaran tidak harus selalu dilakukan melalui metode konvensional seperti membaca atau menulis. Media film, menurutnya, juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk memahami realitas sosial secara lebih dekat. “Melalui bedah film ini, kami ingin mengedukasi para kader bahwa belajar tidak harus selalu melalui membaca, tetapi juga dapat dilakukan melalui menonton. Kami berharap peserta dapat memahami berbagai faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola pikir seseorang hingga mengarahkan pada tindakan terorisme,” jelasnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan melibatkan diskusi dan pertukaran pandangan antarpeserta mengenai faktor sosial, ideologi, serta pentingnya membangun daya kritis dalam menyikapi berbagai informasi dan fenomena yang berkembang di masyarakat. Setelah kegiatan berakhir, Ifa—sapaan akrabnya—berharap budaya intelektual di kalangan siswa dapat terus dipertahankan dan dikembangkan melalui berbagai forum diskusi yang konstruktif.
“Budaya ini harus terus dilanjutkan bahkan dikembangkan. Melalui kegiatan seperti ini kami berharap para kader memperoleh wawasan baru dan manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya.
Melalui kegiatan FISKAL, HMP THP FIKP Unhas berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga sensitivitas sosial, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran untuk memahami persoalan kemasyarakatan secara lebih mendalam.