Harakatuna.com. Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menghadiri perayaan Hari Raya Waisak yang digelar di Vihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, Minggu (31/5). Dalam kesempatan tersebut, Menag mengajak masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan memperkuat toleransi antarumat beragama sebagai fondasi kehidupan berbangsa di Indonesia.
Dalam berbagai hal, Nasaruddin menyampaikan apresiasi terhadap Siddharta Gautama sebagai sosok pemimpin spiritual yang mampu melepaskan diri dari berbagai godaan duniawi demi mencapai pencerahan dan nirwana. Menurutnya, nilai-nilai keteladanan yang diwariskan Siddharta Gautama memiliki kesamaan dengan ajaran yang dibawa para tokoh besar agama lainnya, termasuk Nabi Muhammad SAW.
“Marilah kita meneladani orang-orang luhur dunia, tokoh-tokoh besar yang telah memberikan kontribusi penting dalam sejarah peradaban manusia, termasuk Siddharta Gautama,” ujar Nasaruddin.
Ia menilai, peringatan Hari Raya Waisak tidak hanya menjadi momentum keagamaan bagi umat Buddha, tetapi juga sarana refleksi bagi seluruh masyarakat untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan antarsesama.
Menurut Nasaruddin, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah kemampuan mengendalikan ego. Ia menegaskan bahwa ego yang tidak terkendali kerap menjadi sumber berbagai persoalan dalam kehidupan.
“Yang paling penting bagi kita adalah bagaimana mengendalikan ego. Selama kita masih dididik oleh ego, maka itu menjadi pertanda bahwa kita akan menghadapi banyak tantangan, bahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan,” ujarnya.
Menag berharap semangat Waisak dapat menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menumbuhkan sikap saling menghormati, mempererat persaudaraan, serta menjaga keharmonisan di tengah keberagaman yang dimiliki Indonesia.
Ia menambahkan, kerukunan antarumat beragama merupakan modal penting dalam menjaga persatuan nasional. Oleh karena itu, nilai-nilai kebijaksanaan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap perbedaan perlu terus ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Perayaan keagamaan seperti Waisak menjadi pengingat bahwa kedamaian dapat terwujud ketika setiap individu mampu mengendalikan diri dan menghargai sesama,” tutupnya.