Harakatuna.com. Banyumas – Isu toleransi dan radikalisme menjadi perhatian penting yang perlu dipahami generasi muda dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat. Guru Madrasah Aliyah Tahfidzul Quran (MA TQ) Sambas Purbalingga, Ustaz Hanu Permono, S.Pd.I., menegaskan bahwa sikap toleransi dan radikalisme muncul dari cara seseorang memandang serta menyikapi perbedaan.
Menurut Ustaz Hanu, generasi muda di tengah keberagaman Indonesia tidak boleh acuh tak acuh terhadap perbedaan yang ada. Ia menekankan pentingnya memperluas wawasan keilmuan agar mampu mengambil tindakan yang bijaksana, adil, dan menghargai pandangan orang lain.
“Toleransi dan radikalisme paling tidak keduanya muncul karena adanya perbedaan dan sudut pandang. Perbanyak terlebih dahulu wawasan keilmuan, karena wawasan keilmuan itu yang membuat kita lebih berpaham tasamuh, lebih bertoleransi, dan lebih menghargai,” ujar Ustaz Hanu dalam dialog bertajuk Toleransi dan Radikalisasi, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa sikap radikal sering kali dihilangkan dari pemahaman yang terlalu ekstrem terhadap suatu permasalahan. Manifestasi radikalisme, selanjutnya, tidak selalu berbentuk tindakan fisik, tetapi juga dapat muncul melalui ucapan atau kritik yang tidak tepat terhadap kelompok mayoritas maupun organisasi masyarakat yang memiliki pandangan berbeda.
Dalam pemaparannya, Ustaz Hanu juga menjelaskan bahwa toleransi memiliki batasan-batasan tertentu, khususnya dalam ajaran Islam. Ia menyebutkan bahwa bentuk toleransi paling dasar adalah menghormati keyakinan orang lain tanpa mencampuri urusan ibadah mereka, sebagaimana prinsip lakum dinukum waliyadin yang berarti “untukmu agamamu dan untukku agamaku”.
Namun demikian, ia mengingatkan agar sikap toleransi tidak dilakukan secara berlebihan hingga melampaui batas yang diajarkan agama, seperti ikut merayakan ritual ibadah agama lain atau memasuki tempat peribadatan untuk mengikuti kegiatan keagamaan tertentu.
Sebagai upaya menjaga persatuan di tengah beragam pandangan politik, sosial, budaya, dan agama, Ustaz Hanu mengajak generasi muda untuk mengedepankan dialog yang didasarkan pada data dan referensi yang valid, bukan sekadar opini pribadi. Menurutnya, apabila terdapat perbedaan pandangan yang sulit disatukan, maka sikap saling menghargai dan tidak saling mengganggu menjadi solusi terbaik demi menciptakan kehidupan masyarakat yang rukun, seimbang, dan adil.