Harakatuna.com. Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam untuk terus menjaga dan menginternalisasi nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari setelah Idulfitri. Menurutnya, keberhasilan menjalani Ramadhan tidak hanya diukur dari intensitas ibadah selama bulan suci, tetapi juga dari konsistensi perilaku setelah Ramadhan berakhir.
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin dalam program “Memaknai Lebaran Bersama Menag Nasaruddin Umar” yang disiarkan Berita Satu dalam edisi khusus Idulfitri. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya mempertahankan nilai-nilai yang telah dibangun selama Ramadhan agar tidak hilang setelah bulan suci berlalu.
Menurut Nasaruddin, Ramadhan merupakan proses pembentukan karakter yang menanamkan berbagai nilai keutamaan, seperti kejujuran, keadilan, kebersamaan, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut, kata dia, harus terus dijaga dan diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Yang paling penting, nilai-nilai Ramadhan itu harus dipatrikan dalam diri kita. Kejujuran, keadilan, kebersamaan, toleransi, dan sifat-sifat keutamaan lainnya jangan sampai hilang setelah Ramadhan berlalu. Nilai-nilai itu harus terus tertanam dalam diri kita,” ujar Nasaruddin.
Ia menilai, konsistensi dalam menjaga nilai-nilai tersebut akan berdampak positif terhadap kualitas kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Jika semangat Ramadhan mampu dipertahankan, masyarakat dinilai dapat menciptakan suasana yang lebih harmonis, damai, dan produktif.
“Kalau kita mampu mengikuti semangat Ramadhan itu, maka kita akan menjadi produk Ramadhan yang sangat sejuk, indah, cerah, dan mencerahkan,” kata dia.
Selain itu, Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ia mengimbau masyarakat agar tidak terjebak pada kepentingan suatu saat yang berpotensi merusak kohesi sosial.
“Saya minta persatuan dan kesatuan. Jangan sampai kita terkecoh oleh satu kepentingan suatu saat, lalu saling menyikut antar sesama warga bangsa. Itu akan mencakup kirim-sendi kebangsaan kita,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai pentingnya memulihkan “fitrah persahabatan”, Menag menegaskan bahwa sikap individualisme harus dihindari karena dapat menjadi racun dalam kehidupan berbangsa.
“Saya kira individualisme jangan sampai bersarang di hati dan pikiran setiap anak bangsa. Ini yang menjadi racun, ketika semua orang hanya mementingkan dirinya sendiri,” tuturnya.
Oleh karena itu, menurut Nasaruddin, momentum Idulfitri seharusnya dimaknai sebagai titik awal untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai Ramadhan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungan sosial. Ia menegaskan, Idulfitri tidak sekadar menjadi seremonial perayaan tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat karakter dan persatuan bangsa.