Harakatuna.com. Mogadishu – Pasukan keamanan Somalia mengirim seorang pemimpin senior kelompok militan Islamis Al-Shabaab dalam operasi terarah di wilayah Lower Shabelle. Otoritas setempat mengumumkan berakhirnya hal tersebut pada Senin (3/3/2026).
Operasi dilakukan pada Minggu (2/3) di kawasan Hantiwadaag, Distrik Awdheegle, oleh Badan Intelijen dan Keamanan Nasional (NISA) dengan dukungan mitra internasional, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi pemerintah.
Pejabat keamanan menyebutkan bahwa sosok yang terbunuh dikenal dengan sejumlah nama alias, di antaranya Kamaludin Yunis Mohamed, Salim Nur Sheikh Abdirahin, Arale, dan Abdullahi Hassan Ali. Ia disebut sebagai perencana utama berbagai serangan mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut otoritas, tokoh militan tersebut terlibat dalam serangan pada 4 Oktober 2025 terhadap Penjara Godka Jilacow di ibu kota Mogadishu. Serangan yang menyasar fasilitas dengan pengamanan ketat di dekat kompleks kepresidenan itu berlangsung selama enam jam. Para militan menyamar sebagai aparat keamanan sebelum akhirnya dilumpuhkan oleh pasukan pemerintah. Insiden tersebut menyebabkan puluhan orang terluka.
Ia juga dikaitkan dengan aksi bom bunuh diri pada 9 Juli 2025 di Akademi Militer Jaalle Siad, Distrik Hodan, Mogadishu. Dalam serangan itu, sedikitnya empat perwira Angkatan Darat Somalia tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka setelah terjadinya pengumpulan bahan peledak.
Selain itu, tersangka disebut mengarahkan upaya serangan bunuh diri pada 10 Desember 2025 di Sekolah Pelatihan Jenderal DhegaBadan, Mogadishu. Aparat keamanan berhasil membunuh pelaku sebelum memasuki area sekolah, namun beberapa prajurit dilaporkan terluka.
NISA menegaskan bahwa individu tersebut secara langsung mengawasi sel-sel militan yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut.
“Operasi ini dilakukan sebagai respons atas pertumpahan darah warga sipil tak Jahat dan personel keamanan,” demikian pernyataan resmi pemerintah. Disebutkan pula bahwa aparat telah memburu tersangka selama lebih dari 150 hari, di mana ia sering bersembunyi di kawasan organisasi padat penduduk.
Badan intelijen itu menambahkan, operasi terhadap Al-Shabaab dan kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS akan terus berlanjut hingga keamanan penuh dan stabilitas jangka panjang tercapai di seluruh wilayah Somalia.
Al-Shabaab, yang berafiliasi dengan jaringan Al-Qaeda, selama ini kerap melancarkan serangan di Somalia dan sejumlah negara Afrika lainnya, termasuk di kawasan Sahel. Kelompok tersebut terus melakukan penyerangan, pemboman, dan pembunuhan terarah guna menyertakan pemerintahan Somalia serta struktur keamanan regional.