Harakatuna.com. Moskow — Pemerintah Iran menegaskan tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman retorika yang dilontarkan Amerika Serikat. Sikap tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dalam percakapan telepon dengan Kepala Divisi Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Swiss, Gabriel Luechinger.
“Meskipun Iran memandang pendekatan positif Swiss sebagai hal yang perlu, Iran tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman retorika Amerika Serikat,” ujar Larijani, seperti dikutip kantor berita Tasnim, Kamis (15/1/2026).
Dalam pembicaraan tersebut, Larijani juga menyampaikan apresiasi terhadap peran Swiss yang dinilai konsisten berkontribusi dalam meredakan ketegangan regional serta membantu penyelesaian berbagai krisis internasional sebelumnya.
Pernyataan Larijani muncul di tengah situasi dalam negeri Iran yang tengah dilanda gelombang unjuk rasa. Aksi protes pecah sejak akhir Desember 2025, memicu kekhawatiran masyarakat atas melonjaknya inflasi akibat melemahnya nilai tukar mata uang lokal, rial Iran.
Sejak 8 Januari 2026, intensitas meningkat di berbagai wilayah Iran, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979. Pada hari yang sama, pemerintah Iran dilaporkan memblokir akses internet di seluruh negeri.
Di sejumlah kota, aksi membekukan menjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat kepolisian. Slogan-slogan yang mengkritik pemerintah, sementara laporan menyebutkan adanya korban baik dari kalangan demonstran maupun pasukan keamanan.
Situasi tersebut juga mendapat sorotan dari Amerika Serikat. Pada akhir Desember lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran melanjutkan program pengembangan rudal dan nuklirnya.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump juga melontarkan ancaman akan melakukan serangan besar jika terjadi pembunuhan terhadap para demonstran. Ia menegaskan kesiapan Washington untuk mendukung rakyat Iran di tengah gejolak yang sedang berlangsung.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat pun kembali meningkat seiring berjalannya krisis politik dan ekonomi di Teheran.