Harakatuna.com. Palembang — Sebanyak 400 mahasiswa baru program Diploma dan Sarjana mengikuti kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ) tahap 5 yang digelar di Aula Universitas Terbuka Palembang, Sabtu (21/2/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya berisi pembekalan akademik, tetapi juga menghadirkan narasumber dari Densus 88 Anti Teror Polri Satgaswil Sumatera Selatan, yakni Briptu Nicolas S., SH, dan Briptu Al Farezi, SH keduanya menyampaikan materi mengenai bahaya perundungan (bullying) serta pencegahan radikalisme di ruang digital.
Direktur UT Palembang, Drs. Muhammad Tair A., MM, menjelaskan bahwa OSMB dan PKBJJ merupakan agenda wajib bagi seluruh mahasiswa baru. Ia menuturkan, sistem pembelajaran di UT berbeda dengan sistem sekolah tatap muka pada umumnya karena berbasis pembelajaran jarak jauh dan kemandirian.
“Selama ini mereka terbiasa dengan jadwal sekolah yang sudah ditentukan. Ketika masuk UT, ini menjadi hal baru karena sistemnya berbasis pembelajaran jarak jauh dan mandiri,” ujar pria yang akrab disapa Naim tersebut.
Ia memaparkan, hari pertama kegiatan difokuskan pada OSMB guna memberikan pemahaman menyeluruh tentang sistem pembelajaran jarak jauh sekaligus membangun kesiapan mental siswa dalam menjalani perkuliahan.
Sementara itu, hari kedua diisi dengan PKBJJ yang bertujuan membekali mahasiswa dengan strategi belajar efektif, meningkatkan rasa percaya diri, serta memaksimalkan pemanfaatan layanan UT, seperti tutorial dare dan berbagai fasilitas pembelajaran lainnya.
“Kami berharap saat mereka mulai praktik belajar mandiri sudah mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan, sehingga tidak mengalami kebingungan karena sudah diarahkan sejak awal,” tegasnya.
Dalam sesi materi kebangsaan dan keamanan digital, Briptu Nicolas menekankan bahwa bullying merupakan ancaman serius bagi lingkungan pendidikan. Ia menjelaskan bahwa perundungan adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah, baik secara fisik, sosial, maupun psikologis.
“Dampaknya sangat serius, mulai dari korban merasa lemah dan tidak berharga, mengalami isolasi sosial dan kesepian, kecemasan, depresi, trauma, hingga munculnya kemarahan dan keinginan balas dendam serta krisis identitas,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti maraknya propaganda ekstrem yang beredar melalui gim dare, situs, dan forum digital. Menurutnya, narasi kebencian dan ajakan kekerasan yang terselip dalam konten tersebut dapat memengaruhi pola pikir generasi muda.
Konten berbahaya seperti tema kekerasan ekstrem, sadisme, hingga propaganda radikal dinilai berpotensi mengganggu kesehatan mental dan mendorong terbentuknya pola pikir intoleran.
“Beberapa ciri anak yang terpapar konten radikal antara lain menyukai konten kekerasan dan sadistik, menarik diri dari pergaulan, marah berlebihan saat perangkatnya diperiksa, menyimpan simbol kekerasan, atau meniru tokoh pelaku kekerasan,” ujarnya.
Untuk mencegah radikalisasi, Densus 88 menerapkan strategi 6P, yaitu pengawasan dan deteksi dini, pendidikan dan penyuluhan toleransi, pemberdayaan organisasi dan kegiatan positif, penguatan nilai-nilai Pancasila dan ideologi negara, pendekatan mental dan psikologis, serta pemanfaatan teknologi untuk menyebarkan nilai-nilai positif.
Selain itu, saya juga menginisiasi gerakan penyebaran konten radikal di berbagai platform media sosial, termasuk melalui akun “Sriwijaya Berdulur”, guna menyeimbangkan narasi dan meminimalisir penyebaran konten radikal.
“Hanya itu saja, mantan kebencian juga pengintaian dan didampingi agar tetap terintegrasi dengan masyarakat serta tidak mengalami pengucilan sosial,” tambahnya.
Melalui kegiatan tersebut, pihak kampus berharap mahasiswa tidak hanya mencapai keberhasilan akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
“Semoga UT mampu mencetak lulusan yang sukses, kompeten, dan berkontribusi positif bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutupnya.