Harakatuna.com. Istambul – Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan melontarkan kritik tajam terhadap konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, ‘Israel’, dan Iran, dengan menyebutnya sebagai perang yang sia-sia, ilegal, dan tidak perlu. Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Istana Dolmabahçe, Istanbul, pada Jumat (27/3/2026), Erdoğan memperingatkan bahwa dampak sepanjang jalur diplomasi ini akan membebani seluruh masyarakat internasional, bukan hanya pihak yang bertikai.
Erdoğan menekankan bahwa jarak geografis tidak lagi relevan dalam konflik ini, karena guncangannya telah merusak stabilitas pasar energi, rantai pasokan global, hingga sistem perdagangan internasional.
Erdoğan menyesalkan pengabaian dialog dan diplomasi oleh keluarga internasional. Ia menilai bahwa peluang untuk menemukan titik temu yang sengaja dirusak, yang mengakibatkan biaya pemulihan di masa depan akan semakin membengkak.
Perang yang pecah sejak 28 Februari ini disebut telah membawa sistem ekonomi dunia ke fase yang sangat rapuh dan kompetitif. Masalah keamanan energi dan kebijakan proteksionisme akibat perang kini mengancam stabilitas ekonomi sejumlah negara.
Krisis ini tidak hanya berdampak pada sektor militer, namun juga berdampak pada teknologi informasi, transportasi, dan jaringan perdagangan global yang saling terkait. Pernyataan ini muncul di tengah operasi militer AS-‘Israel’ yang telah menghitung tokoh-tokoh kunci Iran, termasuk Ali Khamenei, serta serangan balasan rudal dan drone Teheran yang mulai menyasar aset sipil dan kepentingan AS di berbagai negara Arab.
Erdoğan memperingatkan bahwa jika bentrokan tidak segera dihentikan, tatanan internasional akan memasuki tahap yang lebih berbahaya dan tidak menuntu. Turki mencoba menempatkan dirinya sebagai suara akal sehat di tengah kegilaan perang ini.
Dengan statusnya sebagai anggota NATO namun memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Iran dan Rusia, Erdoğan berusaha menekan Washington agar kembali ke meja perundingan. Bagi Turki, ketidakstabilan di Iran berarti ancaman pengungsi baru dan menggerakkan harga energi yang bisa berdampak pada perekonomian domestik mereka yang sedang dalam masa pemulihan.