Harakatuna.com. Banten – Kedutaan Besar Republik Islam Iran melakukan safari reuni sekaligus kunjungan religi ke sejumlah titik strategis di Provinsi Banten. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan dengan tokoh agama sekaligus menanggapi dinamika geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Rangkaian kunjungan tersebut meliputi silaturahmi ke kediaman Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar KH Embay Mulya Syarief, Pondok Pesantren Insan Cita Serang (ICS), serta markas PB Al-Khairiyah di Kota Cilegon.
Selain sebagai agenda silaturahmi, pertemuan tersebut juga menjadi ruang dialog antara delegasi Iran dan para tokoh agama Banten untuk membahas perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan meningkatnya ketegangan yang sering dikaitkan dengan zionisme dan campur tangan negara-negara Barat.
Dalam pertemuan di Pondok Pesantren Insan Cita Serang (ICS), Majelis Pimpinan Iman Nafian, H. Fikri, menyampaikan dukungannya terhadap Iran dalam menjaga habitat wilayahnya dari berbagai tekanan eksternal.
“Kami berdiri bersama Iran. Apa yang dilakukan zionis saat ini sudah melampaui batas kemanusiaan dan merupakan bentuk terorisme nyata yang dibiarkan oleh dunia internasional,” ujar H. Fikri dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Ia juga menyinggung peran Amerika Serikat yang menurutnya ikut berkontribusi terhadap ketidakstabilan global. “Kita harus bersikap kritis. Kekacauan yang terjadi di Timur Tengah merupakan bagian dari desain besar imperialisme AS dan zionis. Mereka merusak stabilitas demi ambisi hegemonik. Kita tidak boleh tinggal diam melihat kedaulatan bangsa-bangsa Muslim diinjak,” tegasnya.
Diskusi antara delegasi Iran dan para santri berlangsung dinamis, terutama saat sesi tanya jawab. Salah seorang santriwati menanyakan terkait isu terpencil kapal minyak Indonesia di Selat Hormuz.
Menanggapi pertanyaan tersebut, perwakilan Kedutaan Besar Iran menjelaskan bahwa tidak terjadi penyanderaan kapal. Menurut mereka, peristiwa tersebut lebih berkaitan dengan prosedur masalah dan pelayaran internasional yang mengikuti ketentuan peraturan maritim internasional.
Delegasi Iran juga menegaskan bahwa proses tersebut berjalan secara transparan dan sesuai aturan pelayaran yang berlaku di kawasan Selat Hormuz.
Selain itu, dalam diskusi juga muncul isu mengenai gugurnya prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di wilayah perbatasan Lebanon. Menyanggapi hal tersebut, para tokoh agama di Banten menyampaikan kecaman keras dan menilai kejadian tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional.
“Darah putra terbaik bangsa yang gugur di Lebanon menjadi bukti bahwa zionis tidak menghormati hukum internasional. Ini bukan sekadar konflik regional, tetapi ancaman terhadap kemanusiaan global,” kata H. Fikri.
Usai kegiatan di Serang, rombongan utusan Iran melanjutkan agenda kunjungan ke Kota Cilegon dengan menyambangi Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah. Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menegaskan sikap para ulama dan organisasi masyarakat di Banten yang terus menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina serta menolak segala bentuk imperialisme dan intervensi asing.