Harakatuna.com. Lombok Barat — Upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme terus diperkuat oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui pendekatan deteksi dini dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Hal ini tercermin dalam kegiatan pembekalan yang diberikan oleh jajaran Densus 88 Antiteror kepada personel Polres Lombok Barat.
Kegiatan yang digelar di Ruang Vicon Mapolres Lombok Barat, Rabu (22/4/2026), dipimpin Kasatgaswil Densus 88 NTB, Lili Warli, dan dihadiri Kapolres Lombok Barat, Yasmara Harahap, Wakapolres Kompol I Kadek Metria, para pejabat utama, kapolsek jajaran, serta personel fungsi reskrim, intelijen, dan binmas.
Dalam sambutannya, Yasmara Harahap menyampaikan apresiasi atas dukungan Densus 88 dalam memperkuat wawasan dan kesiapsiagaan personel menghadapi potensi ancaman terorisme. “Berbagai langkah pencegahan terus kami lakukan, mulai dari penguatan peran Bhabinkamtibmas, deteksi dini oleh intelijen, hingga pengawasan mobilitas orang di pintu masuk seperti Pelabuhan Lembar,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa wilayah hukum Polres Lombok Barat yang mencakup tujuh kecamatan dan delapan polsek dalam kondisi aman dan kondusif, serta tidak ditemukan adanya personel yang terindikasi terpapar paham radikalisme.
Sementara itu, Lili Warli menekankan pentingnya sinergi antara Densus 88 dan kepolisian wilayah dalam menjaga stabilitas keamanan. Ia memaparkan bahwa dinamika terorisme di Indonesia masih mempengaruhi sejumlah kelompok besar, seperti Ansharud Daulah yang berafiliasi dengan ISIS, Negara Islam Indonesia, serta Jamaah Islamiyah.
Selain itu, di wilayah NTB juga terdapat sejumlah pemahaman yang perlu diwaspadai, seperti Majelis Mujahidin Indonesia dan eks Hizbut Tahrir Indonesia. Meski demikian, Lili menyebut tren aksi terorisme di Indonesia menunjukkan penurunan yang signifikan. “Sejak 2023, tercatat zero attack. Ini hasil kerja keras bersama antara aparat dan masyarakat dalam upaya pencegahan,” jelasnya.
Khusus di Pulau Lombok, Densus 88 mencatat sebanyak 162 orang masih dalam pemantauan, dengan sebagian besar terafiliasi kelompok tertentu. Namun, mereka dinilai masih dapat didekati melalui strategi deteksi dini dan pelatihan.
Lili khawatir bahwa terorisme tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang berawal dari intoleransi. Ia juga mengingatkan bahwa media sosial kini menjadi sarana utama penyebaran paham radikal, dengan anak-anak dan generasi muda sebagai kelompok paling rentan.
“Saat ini, penyebaran paham radikal sangat masif melalui media sosial. Oleh karena itu, penguatan literasi dan pengawasan menjadi sangat penting,” ujarnya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Polri bersama Densus 88 terus mendorong strategi komprehensif, mulai dari deteksi dini, langkah preventif, pemberdayaan eks cerdas cerdas, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan dan kolaborasi lintas sektor di tingkat nasional maupun internasional.