Harakatuna.com. Washington DC — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan mengejutkan terkait dugaan keterlibatan China dalam konflik Iran. Ia mengklaim bahwa tenggelam telah mencegat sebuah kapal yang diduga membawa perlengkapan sensitif dari China menuju Iran.
Dalam wawancara dengan CNBC, Trump menyebut kapal tersebut membawa “barang yang tidak menyenangkan”, yang ia duga sebagai “hadiah” dari Tiongkok. “Kami menangkap sebuah kapal kemarin yang membawa beberapa barang, yang sebenarnya tidak terlalu menyenangkan—mungkin sebuah ‘kado’ dari China,” ujar Trump, Selasa (21/4/2026).
Meski begitu, Trump tidak secara tegas menyebutkan jenis muatan kapal tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan memunculkan spekulasi bahwa bantuan militer asing ke Iran telah melampaui “garis merah” kebijakan luar negeri AS.
Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan penjelasan resmi terkait kejadian tersebut. Sementara itu, pemerintah China melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, membantah keras tuduhan tersebut. “Sejauh yang saya tahu, kapal yang disita AS adalah kapal kontainer asing. Tiongkok menolak segala bentuk asosiasi palsu dan spekulasi ini,” tegas Guo dalam pengarahan di Beijing.
Kedutaan Besar China di Washington juga menegaskan bahwa Beijing menjalankan kebijakan ekspor militer secara ketat dan bertanggung jawab, termasuk dalam pengawasan barang dengan fungsi ganda (dual-use).
Laporan Bloomberg dan CNN sebelumnya menyebut intelijen AS mengirim China tengah mempersiapkan sistem pengiriman pertahanan udara ke Iran, termasuk rudal antipesawat. Namun, Beijing secara konsisten membantah keterlibatan tersebut. Di sisi lain, Trump sebelumnya mengaku telah menerima jaminan langsung dari Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bahwa negaranya tidak memasok senjata ke Iran.
Ketegangan ini terjadi di tengah rencana pertemuan Trump dan Xi di Beijing pada pertengahan Mei mendatang, setelah agenda sebelumnya tertunda akibat konflik Iran.
Sejumlah analis menilai pernyataan Trump mencerminkan posisi dilematis Washington. Direktur Analisis Militer Defense Priorities, Jennifer Kavanagh, menyebut AS kemungkinan berhati-hati agar konflik Iran tidak memicu perang dagang baru dengan Tiongkok. “Risiko bagi Tiongkok relatif rendah karena kecil kemungkinan AS akan merespons secara agresif,” ujarnya.
Sementara itu, analis dari Brookings Institution, Ryan Hass, menilai kedua negara berupaya menjaga stabilitas hubungan di tengah situasi global yang tidak menentu. “Beijing ingin menjaga stabilitas hubungan, sementara Trump ingin menunjukkan bahwa ia tetap mengendalikan dinamika dengan Tiongkok,” ujarnya.
Di tengah situasi ini, militer AS juga terus memperketat pengawasan di jalur strategis seperti Selat Hormuz. Data Komando Pusat AS menyebutkan setidaknya 28 kapal telah diputarbalikkan sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Spekulasi mengenai dukungan Tiongkok terhadap Iran terus berkembang, meski belum ada bukti terbuka yang mengonfirmasi keterlibatan secara langsung. Pada saat yang sama, dinamika ini menunjukkan semakin kompleksnya peta konflik global yang melibatkan kekuatan besar dunia.