Harakatuna.com. Sanaa – Kelompok Houthi di Yaman memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak terlibat dalam operasi militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Jika hal itu terjadi, Houthi mengancam akan menutup salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, yakni Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah.
Ancaman tersebut dinilai berpotensi memperparah ketidakstabilan geopolitik yang mengguncang sekaligus perekonomian global, mengingat selat tersebut merupakan jalur utama perdagangan internasional yang menghubungkan Laut Merah dengan jalur menuju Terusan Suez.
Selat Bab el-Mandeb sendiri terletak di pintu selatan Laut Merah, di antara wilayah Yaman—yang sebagian dikuasai kelompok Houthi—dan negara Afrika Timur, Djibouti. Jalur laut ini menjadi titik sempit strategis yang mengendalikan arus kapal dagang yang melintas menuju Eropa dan Asia.
Wakil Menteri Informasi Houthi, Mohammed Mansour, menegaskan bahwa kehancuran tidak akan terjadi jika konflik di kawasan Timur Tengah semakin meluas, khususnya jika negara-negara Teluk terlibat langsung mendukung serangan terhadap Iran.
“Kami memikul tanggung jawab agama, moral, dan kemanusiaan yang mencegah kami untuk berdiam diri,” ujar Mansour seperti dikutip dari media Israel Zaman IsraelKamis (2/4/2026).
Ia menambahkan bahwa penutupan Selat Bab el-Mandeb menjadi salah satu opsi yang dapat diambil Yaman jika eskalasi militer terhadap Iran maupun Lebanon semakin meningkat.
“Opsi penutupan Selat Bab el-Mandeb adalah opsi Yaman yang dapat diterapkan jika agresi terhadap Iran dan Lebanon meningkat secara brutal, atau jika negara Teluk mana pun terlibat langsung dalam operasi militer untuk mendukung entitas Zionis atau Amerika Serikat,” tegasnya.
Hingga kini, belum ada negara Teluk yang secara resmi menyatakan bergabung dalam operasi militer bersama Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Namun laporan media internasional menyebutkan bahwa beberapa negara di kawasan tersebut mulai menunjukkan sikap yang dapat mempengaruhi dinamika konflik.
Menurut laporan Jurnal Wall StreetUni Emirat Arab mendorong Amerika Serikat untuk melakukan operasi guna membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup oleh Iran.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran terjadi setelah meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas serangan militer pada 28 Februari lalu yang mengalahkan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah pun semakin meningkat, mengingat jalur-jalur laut seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb merupakan urat nadi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi mempengaruhi distribusi minyak dan gas global serta memicu terganggunya harga energi di pasar internasional.